ASARPUA.com – Labuhanbatu – Inovasi Gerakan Empati Masyarakat Sahabat Anak Hebat (Gema Sahabat) yang digagas Bupati Labuhanbatu Maya Hasmita, berhasil menembus kancah nasional. Program unggulan yang menempatkan anak sebagai pusat pembangunan berkelanjutan itu resmi lolos ke babak presentasi Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada perhelatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Kabar membanggakan tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Maya Hasmita. Ia mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian itu setelah Gema Sahabat melewati proses seleksi ketat di tingkat nasional.
“Alhamdulillah, bisa lolos ke babak presentasi Anugerah Kebudayaan PWI HPN 2026,” ujar Maya dengan penuh optimisme.
Menurut Bupati Maya, Gema Sahabat berawal dari pengiriman proposal dan video inovasi program yang menggambarkan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Labuhanbatu dalam membangun ekosistem ramah anak. Program ini menitikberatkan pada kolaborasi seluruh elemen masyarakat untuk menghadirkan ruang tumbuh yang aman, sehat, dan berdaya bagi generasi penerus.
Dari total 12 provinsi di Indonesia yang mengirimkan berkas pada ajang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat–HPN 2026, hanya 10 kepala daerah tingkat bupati dan wali kota yang dinyatakan lolos. Kabupaten Labuhanbatu pun berhasil menembus 10 besar nasional dan bersaing dengan daerah-daerah terbaik lainnya.
Tahapan penilaian selanjutnya berlanjut ke babak presentasi nasional. Dalam kesempatan itu, Bupati Maya memaparkan langsung inovasi Gema Sahabat melalui presentasi daring di hadapan lima dewan juri nasional yang memiliki kompetensi di bidang kebudayaan, kepemimpinan, dan pembangunan sosial.
Dalam presentasinya, Bupati Maya menjelaskan secara komprehensif komitmen pemerintah daerah, kebijakan yang telah dijalankan, serta dampak nyata Gema Sahabat bagi anak-anak dan masyarakat Labuhanbatu. Ia menegaskan bahwa inovasi tersebut bukan sekadar konsep, melainkan telah berjalan dan memberikan perubahan positif.
Lebih lanjut, Bupati Maya memaparkan bahwa Gema Sahabat tumbuh dari realitas sosial, topografi, dan budaya Kabupaten Labuhanbatu. Kepekaan terhadap risiko alam serta kesadaran akan pentingnya perlindungan kelompok rentan, khususnya anak-anak, mendorong lahirnya program kemanusiaan berbasis nilai budaya lokal.
Program ini telah diimplementasikan dalam berbagai aksi nyata, salah satunya saat membantu korban banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera. Pendekatan budaya inklusif dilakukan dengan melibatkan komunitas etnis untuk menumbuhkan empati serta memobilisasi donasi dari pemerintah, swasta, dan kelompok budaya.
Selain bantuan material, Gema Sahabat juga menghadirkan pemulihan trauma (trauma healing) bagi anak-anak terdampak bencana melalui kegiatan seni dan permainan. Program ini juga disertai pendistribusian perlengkapan sekolah serta kebutuhan dasar bagi keluarga terdampak.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut didokumentasikan secara transparan melalui foto dan video sebagai bentuk akuntabilitas publik. Pemerintah daerah juga bekerja sama dengan media untuk menyebarkan narasi kemanusiaan yang inspiratif. Hal ini disampaikan Bupati Maya dalam presentasinya yang berlangsung Jumat, 9 Januari 2026.
Menurut Bupati Maya, implementasi Gema Sahabat telah berdampak signifikan terhadap pemulihan psikososial anak-anak. Akses pendidikan tetap terjaga berkat dukungan perlengkapan sekolah dan perhatian berkelanjutan terhadap kebutuhan mereka.
“Gema Sahabat berperan sebagai investasi sosial dan budaya bagi Kabupaten Labuhanbatu. Anak-anak yang tumbuh dengan pengalaman empati, solidaritas, dan keteladanan akan berkembang menjadi generasi berkarakter kuat, adaptif, serta memiliki kesadaran kebangsaan dan kemanusiaan,” tutur Bupati Maya.
Berdasarkan Berita Acara Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Nomor 539/PWI-P/LXXIX/I/2026, Bupati Labuhanbatu Maya Hasmita, ditetapkan berhak menerima Trofi Abyakta dan piagam penghargaan pada puncak peringatan HPN 2026 di Serang, Banten, 9 Februari 2026, sekaligus menegaskan Gema Sahabat sebagai inspirasi gerakan empati berbasis budaya di tingkat nasional. (Asarpua)
Reporter: Martin Tarigan

