Membangun Wisata Budaya Pulau Nias

61
Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Sumut dr Ria Novida Telaumbanua (kanan) saat mengunjungi gua di Pulau Nias yang tidak hanya berbicara tentang proses geologis pelarutan batukapur pembentukan gua tetapi juga bahwa gua tersebut berkisah tentang awal dari sejarah panjang Ono Niha (Manusia Kepulauan Nias). (Foto. ASARPUA.com/handover)

Oleh: Ir Jonathan Tarigan

Kepariwisataan bahari di Bali memiliki keunggulan yang tak tertandingi oleh wisata bahari di tempat-tempat lain di dunia. Apakah itu wisata bahari di rangkaian pulau-pulau di Karibia, wisata bahari di Thailand seperti Pattaya dan Phuket, Brazil, Maldives, Langkawi dan lain-lain dikarenakan wisata bahari (marine tourism) di Bali terkait dengan wisata budaya yang menarik hati.

Oleh karena itu wisata bahari di Nias yang ditetapkan secara nasional sebagai destinasi wisata bahari haruslah dihubungkaitkan dan dioperasikan dengan wisata budaya Nias yang unik, autentik dan eksotik.

Lompat Bati di Desa Bawomataluwo Nias Selatan. (Foto. ASARPUA.com/handover)

Foto dalam postingan ini adalah sebuah gua di Nias yang tidak hanya berbicara tentang proses geologis pelarutan batukapur pembentukan gua tetapi juga bahwa gua tersebut berkisah tentang awal dari sejarah panjang Ono Niha (Manusia Kepulauan Nias).Ya objek wisata budaya (heritage) yang bernilai dan mengesankan.

Pastor Johannes Hammerle OFMCap dari Museum Pusaka Nias menyatakan bahwa gua Togi Ndrawa adalah tempat bermukimnya manusia Nias generasi kedua sementara generasi pertama adalah manusia yang tinggal di pepohonan. Selanjutnya adalah manusia Nias generasi ketiga yang merupakan kedatangan manusia ke Nias bergelombang-gelombang dan menempatkan Pulau Nias tempat berbaurnya berbagai etnis yang membentuk Nias sekarang dalam kesatuan bahasa dan budaya Nias yang satu dalam berbagai variasinya yang indah.

Tari Perang dan Lompat Batu di Desa Bawomataluwo di Nias Selatan yang sangat menarik itu bukanlah satu-satunya tampilan budaya Nias masih banyak dan banyak lagi.

Deklarasi Keanekaragaman Budaya dari Unesco 2001 menyatakan bahwa budaya merupakan ungkapan yang menyangkut aspek: spiritual, material, intelektual dan perasaan dari suatu kelompok masyarakat yang tercermin lewat: gaya hidup, sistem nilai, way of life, tradisi, kepercayaan, naskah-naskah, rumah-rumah tradisional/rumah adat.

Wisata budaya dimaksudkan untuk memperkaya nilai-nilai sosial dan budaya serta memuaskan hasrat ingin tahu (curiosity) bagi wisatawan yang berkunjung.

Kita bisa mencermati variasi rumah adat Nias dari Desa Bawomataluwo di Nias Selatan yang memiliki perbedaaan dengan rumah adat Nias di Nias tengah dan utara. Dalam rumah adat Nias itu melekat nilai-nilai dan filosofi kehidupan Ono Niha (Manusia Nias).

Pada tahun 2005 ya 15 tahun yang lalu pasca gempabumi dan tsunami mebghantam Pulau Nias saya berkesempatan melakukan observasi rumahrumah tradisional/adat Nias tersebut dari selatan (Bawomatoluwo) ke Mandrehe hingga ke Tuhembaruwa dan Lahewa di utara. Hanya fokusnya terhadap ketahanannya terhadap guncangan gempabumi. Rumah tradisional Nias itu dirancang oleh nenek moyang Nias sedemikian rupa tahan gempanya.Namun juga rumah tradisional Nias itu indah, nyaman dan aman untuk dihuni.

Adalah Desa Gomo di Nias Selatan yang disepakati oleh para tetua sebagai sentra budaya Nias. Atribut budaya di Desa Gomo ini paling lengkap oleh karena itu harus dibangkitkan dalam upaya memajukan kepariwisataan Nias yang dihubungkaitkan dengan wisata bahari Nias mengingat banyak terdapat “spot-spot” wisata bahari dan pantai yang indah, bersih dan nyaman seperti pantai dan laut di kawasan Lahusa-Oladano-Tanjung Fana pada kawasan timur Nias,Tuhembarua, Lahewa di Nias Utara, Sirombu dan Pulau-pulau Hinako (P. Aso) di bahagian barat Nias dan juga di Pulau-pulau Batu, Pulau Telo. (asarpua)

Penulis adalah Ahli Geologi juga Pemerhati Wisata dan Budaya