Oleh: Sada Arih Sinulingga
Menyadap pohon nira atau pohon enau untuk mendapatkan air nira bagi suku Karo di Sumatera Utara disebut “Ngeria” sejak lama sudah dilakukan yang dijadikan sebagai sumber mata pencaharian. Pohon nira atau enau yang dalam bahasa Karo disebut Pola.
Pohon Enau ini terdapat banyak tumbuh liar di hutan-hutan pebukitan di ladang-ladang penduduk. Pohon enau saat ini juga sudah mulai banyak di budi dayakan mengingat kebutuhan gula merah dari enau yang dikenal sebagai Gula Gara dalam bahasa Karo ini semakin banyak permintaan dari konsumen. Selain itu air nira juga di jadikan minuman tuak. Komsumen air tuak dari nira atau enau ini juga cukup besar jumlahnya.
Ergula maksudnya menyadap air nira dan menjadikannya gula banyak ditemui di kampung sekitar Gunung Merlawan dikenal juga berada di Urung Sebernaman saat ini berada di Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang. Juhar Kabupaten Karo, Tiga Juhar Deliserdang. Memang penduduk Kecamatan Kutalimbaru bagian hulu dekat kaki Gunung Sibayak ini sama seperti Urung XII Kuta dan Urung Sukapiring saat ini masuk Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deliserdang ini terdapat banyak pohon enau maka pada umumnya menyadap nira dijadikan gula ini banyak sekali dilakoni penduduk sebagai mata pencaharian.
Ayah saya bernama Sabtu Sinulingga menuturkan kepada saya bahwa beliau sejak berusia 15 tahun sudah menyadap Air Nira di kampung Gunung Merlawan dan kampung sekitarnya yang menjadikannya sebagai mata pencaharian. Setelah menikah ergula ini tetap di lakoni selain bertani. Beliau dikenal sebagai pergula yang handal karena air nira nya melimpah karena saat itu sebesar-besarnya bambu (Buluh Belin) dijadikan tongkap yaitu penampung air nira tidak muat juga maka di buatkan dua diletakkan secara bertingkat. Belakangan diganti dengan jeregen plastik.
Karena ada beberapa pohon enau yang di sadap, airnya juga banyak maka untuk mengangkut air nira tersebut menggunakan kuda ke gubuk pengolahan gula yang disebut Pergulaan dalam bahasa Karo.
Ayah saya yang saat ini tinggal di Desa Namomirik Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang menjelaskan kepada saya bahwa Enau sudah Dewasa memiliki dua jenis tandan yang muncul yaitu:
1. Tan Keltau yaitu Tandan yang mana yang pertama kali muncul bunga nya dan menjadi buah berwarna hijau. Buah Keltau ini yang di jadikan orang buat kolang-kaling. Jenis ini biasanya ada 3 atau 4 tandan.
2. Tan pola yaitu Tandan bunga, jenis ini kulit bunga berwarna hijau awalnya kemudian berubah warna kehitam – hitamaman dan mekar tidak menjadi buah. Jenis yang ke 2 ini lah yang biasanya di olah jadikan penghasil air nira.
Menurut Ayah saya Tandan bunga nira yang dijadikan penghasil air nira dapat di bagi dalam tiga kategori yaitu:
1.Pola Tukasen ( tandan enau yang pertama sekali muncul). Tandan ini adalah yang terbaik namanya dalam bahasa Karo yaitu Pola Tukasen yang artinya tandan enau terbaik biasanya kualitas air dan jumlah nya maksimal.
2.Pola Agi – agi, maksudnya disebut demikian karena tandan tersebut merupakan adik-adik dari Pola Tukasen yaitu tandan kedua dan yg ke berikutnya dari yang pertama. Pola Agi-Agi ini sudah kategori kualitas nomor dua.
3. Pola Kudung-kudung, yaitu tandan yang muncul setelah buah Keltau (jenis yg dapat dijadikan kolang-kaling) itu sudah runtuh atau berjatuhan.
Biasanya jika sudah tua buahnya menguning dan berguguran ke tanah .Jika ada tandan maka muncul lagi setelah kondisi ini maka tandan tersebut kategori pola kudung-kudung, maka kualitas air dan jumlahnya kurang baik yaitu dibawahnya pola Agi-agi.
Berikut ini tahapan-tahapan dan cara menyadap air nira:
1.Numbuki atau Membersihkan Tandan
Langkah pertama yang harus dilakukan pembersihan tandan. Tandan yang dipilih adalah tandan yang bunganya berwarna ke hitam- hitam dan kalau kulit bunga jantan belum pecah. Caranya, bersihkan ijuk di sekitar tandan dalam bahasa Karo disebut Nggetas ijuk (memotong ijuk) dan selanjutnya buang dua pelepah daun yang berada di atas serta bawah bunga, salah satu dari pelepahnya jangan dipotong sampai putus tapi di jadikan sebagai tempat berdiri dalam bahasa Karo disebut bangkah.
Pembersihan Tandan ini dalam bahasa Karo disebut Numbuki. Disebut Numbuki karena sekeliling tandan di bersihkan dari ijuk, luak-luak atau kulit penutup tandan tersebut.
Perlu jaga tandan jangan sampai terluka terkena parang. Apabila tandan cukup besar agar jangan sampai tandan patah maka dapat dibantu dengan mengikatkan tali dari batang enau di atas nya tandan ke bagian ujung tandan dalam bahasa Karo disebut “tangging”.
Dapat juga berat tandan dengan mengurangi atau membuang sebagian jumlah rirang dari bunga tandan agar berkurang berat tandan.
2. Mbalbal atau Memukul Tandan
Setelah tandan bersih, maka tahapan berikutnya adalah memukul tandan. Tandan atau tangan bunga enau yang dalam bahasa Karo disebut “Tan Pola ” sudah dapat dipukul apabila bunga enau tersebut jika dipecahkan tampak bagian dalamnya sudah berwarna kuning, jika belum berwarna kuning maka ditunggu dulu sampai berwarna kuning.
Apabila saat diperiksa ternyata bunga sudah berwarna kuning bagian dalamnya maka tahapan memukul tandan dapat dimulai. Karena itu biasanya setelah tahapan pembersihan tandan bisa saja ada jeda waktu beberapa hari menunggu waktu yang tepat.
Cara Mbal- bal dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
,,,,,,,, pukul batang pohon enau dibawah pangkal tandan sebanyak 3 kali sekeras-kerasnya dengan ritme dan jarak yang diatur sedemikian rupa sehingga menimbulkan suara yg merdu kira-kira bunyi nya begini ;
pour………….
pour………….
pour………….
selanjutnya, memukul tandan, tandan dipukul mulai dari pangkal tandan sampai ke ujung tandan dikelilingi secara merata (dalam bahasa Karo disebut serser) setelah itu diayun-ayunkan dengan memegang ujung tandan sebanyak minimal 20 kali.
Dapat dilakukan berulang dari awal lagi sesuai kebutuhan dan kondisi tandan maksudnya jika tandan keras maka bisa dilakukan berulang – ulang dan harus juga di jaga jangan sampai pecah atau terluka.
Biasanya tandan dipukul perlahan disertai dengan mengayun tandan diiringi dengan nyanyian yang berisikan doa-doa atau harapan agar tandan akan mengeluarkan air yang banyak.
Dalam kepercayaan tradisi suku Karo pohon enau itu diyakini sebagai Beru Sembiring sehingga dalam nyanyian tersebut diselipkan kata-kata permohonan kepada Beru Sembiring tersebut agar berkenan membantunya dengan mengasih air nira yang banyak sehingga si Perpola (penyadap) bisa membayar utang atau memiliki uang yang cukup agar dapat hidup yang lebih layak dari hasil penjualan gula enau tersebut .
Dalam kegiatan Mbalbal atau memukul tandan ini dilakukan dengan kayu secara perlahan yang biasanya sudah disiapkan khusus gunanya untuk memukul tandan yang dalam bahasa Karo disebut Per bal – bal atau pembal- bal yang artinya alat memukul. Pernak Mbalbal yang terbaik biasanya terbuat bahannya dari Kayu Tualang (Kayu Raja) Kayu Juhar, Kayu Nangka boleh juga dari pohon Kayu Petai Cina . Kayu tersebut di bentuk seperti alat pemukul kira-kira sebesar betis pria dewasa dan dibuatkan tangkai tempat pegangan tangan agar nyaman saat menggunakannya .
Kegiatan Mbalmbal atau memukul tandan ini bisa dilakukan dengan rentang waktu seminggu sekali dalam jangka waktu selama 4 minggu .
3.Tampul atau memotong tandan .
Apabila bunga tandan sudah mekar dan biasanya lebah dan renggenai (sejenis lebah) sudah berdatangan mengerubuti bunga tandan maka tandan sudah dapat di potong di ujung tandan atau di pangkal bunga.Perlu diperhatikan jangan sampai terlalu cepat di potong atau terlambat dipotong karena yang paling baik dipotong apabila bunga mekar sudah mencapai setengahnya. Setelah dipotong di ujung tandan maka bekas potong ditutup dengan mbertuk yaitu daun anak enau yang telah dipersiapkan sebelumnya.
4. Ngeria atau Mengiris tandan
Ngeria dilakukan sebanyak dua kali sehari yaitu pagi, dan sore hari dengan cara mengiris tipis ujung tandan bekas potongan tersebut. Irisan nya kira-kira setebal 2 kali uang logam Rp500.
Mengiris ujung tandan ini di lakukan agar saluran atau pembuluh kapiler kembali terbuka dan nira dapat keluar dengan lancar. Apabila saat mengiris air belum menetes keluar tetap saja dilakukan mengiris tandan dan tidak boleh dipotong lebih tebal. Jangan karena air tidak keluar kemudian dipotong lebih tebal supaya air menetes, itu biasa saja terjadi dan harus bersabar tetap mengiris tandan pagi dan sore setebal yang dianjurkan.
Biasanya dibutuhkan jangka 4 hari atau seminggu baru air enau sudah menetes lancar tanpa henti yang dalam bahasa disebut Ndapet yang artinya saat di iris pada pagi hari sudah keluar airnya dan saat datang sore hari untuk mengiris kembali air menetes normal seperti tadi pagi. Jika sudah demikian maka sudah dapat di tampung airnya dengan wadah bambu yang dalam bahasa Karo disebut Tongkap, saat ini ada juga sudah menggunakan jerigen plastik.(@asarpua)
Penulis adalah Pemerhati Budaya Karo

