ASARPUA.com – Berastagi – Gedung Gereja Katolik yang difungsikan menjadi Museum Pusaka Karo. Museum Pusaka Karo selain mengemban fungsi mulia untuk memuliakan kebudayaan keberadaannya saat ini menjadi salah satu ikon kota wisata Berastagi. Posisinya sangat strategis berada di Jalan Perwira Berastagi tak jauh dari Kantor Pos dan pajak buah Berastagi. Museum ini pada awalnya adalah bangunan Gereja Katolik yang tidak dipakai lagi setelah diresmikannya Gereja Katolik Inkulturatif Jalan Jamin Ginting Berastagi. Museum ini diresmikan oleh Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya pada 09 Februari 2013.
Sepasang pengantin Karo dengan pakaian adat Karo lengkap mengapit rumah adat Karo menyambut pengunjung di Museum Pusaka Karo
Ide pembuatan museum Pusaka Karo lahir dari inisiatif seorang pastor berkebangsaan Belanda yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan dan sejarah. Setelah menjadi WNI pada tahun 1994 beliau lebih dikenal dengan nama Pastor Leo Joosten dan memilih Ginting menjadi klan merganya.
Pastor Leo melihat masyarakat saat ini mulai meninggalkan adat dan budayanya serta melupakan sejarah mereka sendiri. Ia pun kemudian mensosialisasikan kepada masyarakat Karo bahwa ia akan membuat Museum Pusaka Karo. Tanpa disangka, antusiasme masyarakat cukup tinggi, mereka dengan suka rela menyumbangkan benda-benda bersejarah yang mereka miliki untuk dijadikan koleksi museum, sehingga terkumpullah seratusan koleksi sebagai awal pendirian museum ini.
Ratusan koleksi peradaban masyarakat Karo tersimpan di sini
Ide pembuatan museum Pusaka Karo lahir dari inisiatif seorang pastor berkebangsaan Belanda yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan dan sejarah. Setelah menjadi WNI pada tahun 1994 beliau lebih dikenal dengan nama Pastor Leo Joosten dan memilih Ginting menjadi klan merganya.
Pastor Leo melihat masyarakat saat ini mulai meninggalkan adat dan budayanya serta melupakan sejarah mereka sendiri. Ia pun kemudian mensosialisasikan kepada masyarakat Karo bahwa ia akan membuat Museum Pusaka Karo. Tanpa disangka, antusiasme masyarakat cukup tinggi, mereka dengan suka rela menyumbangkan benda-benda bersejarah yang mereka miliki untuk dijadikan koleksi museum, sehingga terkumpullah seratusan koleksi sebagai awal pendirian museum ini.
Ruangan Museum Pusaka Karo yang masih persis bangunan gereja
Selain sumbangan dari masyarakat. Terdapat juga benda-benda titipan dari kolektor benda bersejarah yang dititipkan di museum ini. Tak berhenti sampai disitu, Pastor Leo Joosten Ginting juga berusaha untuk mengembalikan benda bersejarah masyarakat Karo yang ada di Belanda. Dulu memang banyak antropolog asing yang tertarik datang dan mempelajari budaya serta sejarah Karo. Jadi sangat wajar jika saat ini arsip dan benda bersejarah Karo ada di luar negeri, salah satunya di Belanda.
Replika Satur (Catur) Karo
Setiap kali berkunjung ke Belanda, sang Pastor berusaha meyakinkan pihak museum di Belanda bahwa usaha pengembalian benda-benda bersejarah yang dilakukannya semata-mata untuk kepentingan pengetahuansejarah.Usahanya berhasil, Padung-Padung (Anting-anting perempuan Karo pada zaman dulu yang beratnya mencapai satu hingga satu setengah kilogram) dan Pustaka Lak-Lak (kitab aksara Karo yang ditulis di kulit kayu. Biasa digunakan Guru Si Baso/dukun dalam ritual pengobatan) berhasil didatangkan kembali dan menjadi koleksi tertua Museum Pusaka Karo yang diperkirakan usianya lebih dari 200 tahun.
Gereta Lembu heritagenya transportasi pertanian Karo
Memasuki bangunan museum, pengunjung disambut dengan sebuah rak kaca berisi souvenir khas Karo di sebelah kanan dan meja resepsionis di sebelah kiri. Sedangkan di bagian depan, replika rumah adat Karo -Rumah Siwaluh Jabu- dengan dua patung muda-mudi di kiri kanannya dengan mengenakan pakaian adat Karo langsung menjadi fokus pandangan mata. Di belakang kedua patung tersebut, berdiri patung muda-mudi karo di zaman dulu, menumbuk padi dan memanggul garam. Di belakang replika Rumah Siwaluh Jabu, terdapat catur Karo dengan bentuknya yang unik. Catur Karo berbahan kayu, ubi, rotan dll. Susunan buah dan bidak catur Karo berbeda dengan catur internasional. Catur ini termasuk jenis permainan yang digemari oleh masyarakat Karo.
Koleksi lain yang dipajang di bagian tengah ruangan di lantai dasar adalah Gundala-Gundala, topeng Karo yang berukuran besar dan digunakan untuk menakuti burung di sawah dan upacara-upacara adat Karo seperti ritual memanggil hujan. Aneka jenis senjata juga menjadi pajangan di bagian tengah ruangan. Di sisi kiri memajang Tembut-Tembut Seberaya yang bentuknya mirip dengan Gundala-Gundala, aneka jenis uang, dan benda-benda bersejarah lainnya. Sedangkan di sisi kanan menampilkan patung-patung dengan busana adat masyarakat Karo. Uis, kain khas Karo dipajang di bagian tengah ujung ruangan. Motif ukiran Gerga banyak kita jumpai disini, menjadi penghias yang cantik di tiang-tiang ruangan.
Naik ke lantai atas, koleksi dominan benda-benda dan perhiasan yang digunakan masyarakat Karo sehari-hari seperti capah, semacam piring yang terbuat dai pohon nangka atau kayu Piale. Capah biasa digunakan untuk tempat makan. Satu capah biasa digunakan untuk makan empat orang bersama-sama, sebuah tradisi yang kental akan kebersamaan. Lalu ada Raga-Raga, Tabu-Tabu Irawang, Tenggala Page, Siser Ter-Ter dan Lagan. Beberapa jenis perhiasan yang dipajang antara lain : Sertali Layang-Layang Kitik, Sertali Rumah-Rumah. Gelang Sarung, Bunga Palas, Cincin Tapak Gajah, Kudung-Kudung, Padung Curu-Curu. (Asarpua)
Petunjuk
Museum Lusaka Karo
Jalan Perwira Berastagi, Kabupaten Karo
Berada dekat dengan Kantor Pos dan Pasar Buah Berastagi
Sekitar 50 meter dari Tugu Perjuangan Berastagi

