ASARPUA.com – Sibolangit – “Kadang merasa aneh ia melihat konstruksi mengatasi longsor tebing Jalan Sembahe, Sibolangit ?” kata Daud Ginting seperti dikutip dari Fb nya, Senin (27/10/2025)
Dikatakannya, para ahli menyebut itu teknik “BIO-ENGINEERING”.
Tebing curam di samping jalan raya seringkali menjadi ancaman, terutama saat musim hujan, karena rentan mengalami longsor.
Untuk mengatasi risiko itu dapat dilakukan dengan dua teknik utama secara bersamaan, menciptakan perlindungan yang kuat dan ramah lingkungan.
Kondisi tebing dengan tumpukan pasir raksasa yang terus-menerus ingin tumpah ke jalan, untuk mencegahnya dibangunlah Dinding Penahan (Retaining Wall), yaitu struktur kokoh dari beton atau batu yang terlihat di dasar tebing, persis di tepi jalan.

​Fungsi: Dinding ini bertindak seperti penyangga utama atau “tembok penahan” yang menahan seluruh dorongan (tekanan lateral) dari massa tanah di atasnya. Ini adalah pertahanan pertama dan paling penting untuk memastikan jalan tetap aman dari keruntuhan besar.
Kemudian dilakukan “Perlindungan Permukaan, mempergunakan Jaring Bambu dan Kekuatan Alam (Solusi Lunak/Bio-engineering).
​Setelah kaki tebing diperkuat, perhatian beralih ke permukaan tebing yang curam. Di sinilah prinsip Bio-engineering (Rekayasa Biologi Tanah) bekerja.
​Bio-engineering adalah cara cerdas untuk menggunakan tanaman dan bahan alami (seperti bambu) untuk menstabilkan tanah, bukan hanya mengandalkan beton saja.
​Penerapan Bambu: Seluruh permukaan tebing yang terbuka ditutupi oleh jaring-jaring atau anyaman bambu. Ini adalah perkuatan sementara yang sangat penting.
​Jaring bambu bertindak seperti ‘jaring pengaman’, mencegah tanah permukaan hanyut dan terkikis oleh air hujan.
​Jangka panjang jaring bambu ini akan menjadi media tanam. Pekerja akan menanam benih atau stek tanaman berakar kuat di dalamnya (misalnya, rumput Vetiver atau tanaman lokal lainnya).
​Fungsi Tanaman adalah, ketika akar tanaman ini tumbuh, mereka akan bertindak seperti “tulangan alami” (seperti besi dalam beton) yang mengikat massa tanah di dalamnya.
Akar ini juga menyerap air, sehingga mengurangi tekanan air di dalam tebing yang sering menjadi pemicu utama longsor. ​Intinya, teknik yang digunakan adalah perpaduan Bioteknikal, dingding penahan (Solusi Keras) memberikan stabilitas struktur terhadap keruntuhan besar.
​Jaring Bambu dan Tanaman (Solusi Lunak/Bio-engineering) memberikan perlindungan erosi permukaan dan penguatan jangka panjang yang dinamis, membuat tebing makin stabil seiring tumbuhnya vegetasi. Kombinasi ini memastikan tebing di samping jalan terlindungi secara struktural sekaligus terjaga kelestarian lingkungannya.
Demikianlah adanya, semoga tidak merasa aneh lagi ketika melintas jalur Tirtanadi-Sibolangit melihat pekerjaan mengatasi longsor disana. (Asarpua)

