ASARPUA.com – Medan – Ada beragam cara dilakukan Pemerintah Kota Medan memanjakan warganya untuk menikmati ruang terbuka public. Tidak hanya mempercantik, merawat dan melengkapi segala fasilitas, Pemko Medan juga berusaha agar ruang publik benar-benar menjadi ruang yang humanis. Dari sekian banyak ruang publik yang kita temui di Kota Medan satu yang sangat terkenal dan tertua memiliki sejarah panjang peradaban, budaya dan perjuangan yaitu Lapangan Merdeka Medan, Sumatera Utara.
Lapangan Merdeka Medan adalah landmark- nya Kota Medan. Letaknya berada tepat di jantung Kota Medan, sejak awal berdiri berfungsi sebagai ruang terbuka publik. Satu hal yang paling menarik terkait Lapangan Merdeka bahwa dari sinilah bagian awal (pondasi) terbentuknya Kuta Madan – bahasa Karo memiliki arti ‘kuta sehat sejahtera’ yang kini kita kenal dengan nama Kota Medan. Lapangan Merdeka sebagai titik nol nya Kota Medan, memiliki nilai sejarah permulaaan kota ini sebagai daerah perkebunan dengan Tembakau Deli yang termashyur itu.

Dari sinilah lahirnya Kesain Madan. Kesain – bahasa Karo adalah halaman, ini adalah wajah Kuta Madan. Lalu karena artikulasi masyarakat Kesain Madan berubah menjadi Kesawan Medan dan Kuta Madan menjadi Kota Medan. Kuta Madan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi tahun 1590. Lapangan Merdeka dulu menjadi tempat pertemuan para pedagang dan menjadikannya sebagai daerah persinggahan, sehingga kawasan ini terbentuk dan berkembang sesuai perkembangan zaman. Menurut sejarahnya di Lapangan Merdeka juga pernah berdiri bangunan balai adat masyarakat Karo berupa ‘Geriten’-bahasa Karo atau biasa juga disebut ‘Jambur’ (tempat digelarnya rapat atau pertemuan-pertemuan lainnya). Hal itu membuktikan kalau Guru Patimpus seorang putra Karo yang arif dan bijaksana, sejak awal sudah menanamkan budaya ‘runggu’-bahasa Karo (musyawarah) dan ‘aron’-bahasa Karo (bekerjasama, gotong royong) di tengah masyarakat Kota Medan.
Di masa Kolonial Hindia Belanda, Lapangan Merdeka bernama Esplanade. Puluhan pohon trembesi tumbuh di sekelilingnya membuat kawasan ini hijau dan sejuk dengan kicauan burungpertanda lingkungan yang sehat menawarkan suasana tentram. Apalagi pada masa itu populasi penduduk masih sedikit demikian juga dengan kenderaan bermotor hanya hitungan jarisehingga membuat Esplanade semakin nyaman bagi kaum kulit putih yang menempati struktur puncak masyarakat kolonial di Sumatera Utara masa itu.
Seiring kemajuan perkebunan di Kota Medan pada masa lampau maka bangunan perkantoran, seperti kantor pos, bank, hotel, maskapai perkebunan dan stasiun dibangun di sekeliling Lapangan Merdeka, namun lapangan ini tetap dibiarkan kosong sebagai ruang pertemuan publik dan menjadi saksi sejarah lahir dan bertumbuhnya kota. Pada hari-hari tertentu Lapangan Merdeka dipakai juga untuk berbagai pertunjukan musik dan hiburan lainnya.

Sewaktu pemerintahan Kolonial Hindia Belanda digantikan pendudukan Jepang semua yang beraroma kolonial di Indoneisa dilarang termasuk nama Lapangan Esplanade di Sumatera Timur (Sumatera Utara sekarang) diganti menjadi Lapangan Fukuraido. Namun demikian fungsinya sebagai ruang terbuka publik untuk berbagai kegiatan tetap dipertahankan. Setelah Jepang dikalahkan Sekutu dan Indonesia mengumandangkan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 lapangan ini kemudian dinamai Lapangan Merdeka. Di masa kemerdekaan Lapangan Merdeka menjadi tempat rapat dan pertemuan bagi kepentingan penguatan pemerintahan baru di Sumatera Utara.
Meskipun menjadi tempat pertemuan dari beragam kelompok masyarakat, tetapi di masa itu fungsi dan bentuk Lapangan Merdeka dengan keasriannya tidak mengalami perubahan. Nilai historisnya tetap terjaga dan dipertahankan seperti sediakala. Deretan bangunan yang ada disekitar Lapangan Merdeka dikenal dengan ‘kota tua’ di daerah Kesain (Kesawan) Medan merupakan sebuah penggalan ceritera masa lampau yang menarik untuk direkonstruksi sebagai penguat identitas dan menjadikannya destinasi wisata Kota Medan.

Sekarang dalam gempuran dunia industri dan modernisasi Medan sebagai kota metropolitan dan berimbas bagi Lapangan Merdeka. Selanjutnya sekitar tahun 2005 seiring perkembangan kota di sisi Barat Lapangan Merdeka atas nama keindahan kota dan mengembangkan kuliner lokal, dibangun gerai-gerai kuliner Barat, Asia dan lokal yang disebut pusat jajanan kota bernama Merdeka Walk. Sekelebat tampak gerai-gerai kuliner ini kian menggenjot kegermelapan dan keramaian kota.
Sedangkan di sisi sebelah timur, Pemko Medan membangun areal parkir sebagai salah satu upaya untuk mengurangi arus kemacetan lalu lintas keluar masuk Stasiun Kereta Api. Pengerjaan lahan parkir ini terlaksana berkat kerjasama Pemko Medan dengan PT. Kereta Api Indonesia melalui PT. Railink, perusahaan yang bergerak dalam pengoperasian dan pengelolaan kereta api ke bandara.
Pun demikian warga Kota Medan setiap sore ramai berolah raga di Lapangan Merdeka. Di sini terdapat bermacam fasilitas alat spot yang disediakan Pemko Medan. Lapangan ini juga dilengkapi lintasan jogging dan sepeda. Pada hari-hari tertentu lapangan dipakai Pemko Medan dan Pemprov Sumatera Utara, serta pertunjukan musik dan event-event lainnya. Wisatawan mancanegara maupun lokal dan para komunitas masih memasukkan Lapangan Merdeka dalam list kunjungannya. Sekarang setelah direvitalisasi di masa kepemimpinan Bobby Nasution Walikota Medan, entahlah ceritanya kita tulis dilain waktu. (tania depari-buku Ayo Traveling ke Medan)

