asarpua.com

Rahmat International Wildlife Museum & Gallery, Menyimpan Ribuan Koleksi Satwa

Museum Rahmat di Jalan S Parman Medan. (Foto. Asarpua.com/taniadepari)

ASARPUA.com – Medan – Museum ini berdiri punya cerita panjang yang bermuara pada sebuah kepedulian dan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa. Berawal dari hoby berburu dari sang owner DR H Rahmat Shah puluhan tahun lalu akhirnya tercetus niat mendirikan museum. Pertama sekali didirikan di rumah kediaman DR H Rahmat Shah, Jalan DR Mansyur, Kecamatan Medan Baru, diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof Dr Juwono Sudarsono MA 14 Mei 1999

Karena koleksi sudah sangat banyak dan memerlukan ruangan yang lebih luas maka dibuatlah museum yang lebih representatif di buka untuk umum. Maka dibangunlah gedung museum berlantai dua, di Jalan Letjen S Parman No 309, Kota Medan, diberi nama Rahmat International Wildlife Museum & Gallery. Diresmikan 13 November 2007 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Selanjutnya, pengembangan dilakukan dan kapasitas gedung dapat menampung 500 orang diresmikan Menteri Kehutanan RI, Dr H Zulkifli Hasan.

Pengembangan gedung dilakukan agar Rahmat International Wildlife Museum & Gallery  bisa lebih berkembang lagi. Rahmat Shah, selaku pendiri Yayasan Rahmat Indonesia yang menaungi Rahmat International Wildlife Museum & Gallery mengatakan gedung tersebut awalnya hanya berupa bangunan yang apa adanya, memuat koleksi yang juga apa adanya berupa kerangka hewan, lalu bertambah 1000 hewan serta sebagian ada sumbangan serta pemberian dari teman-teman yang disimpan disini, hingga sekarang  mencapai 5000 koleksi dari berbagai jenis satwa dalam dan luar negeri.

Kita selalu mengikuti perkembangan zaman, baik untuk koleksi maupun bangunan maka kita kembangkan sedikit, perluasan gedung, sehingga semua bisa nyaman dan kerasan setiap kali mengunjungi museum ini. Ilmu yang diberikan dari museum ini tidak ternilai harganya, dikunjungi berbagai kalangan, pelajar, mahasiswa sampai miss universe pernah mengunjungi museum ini, kata Rahmat Shah

Rahmat Shah menguraikan tentang kegemaran berburunya  yang sebagian besar menjadi koleksi museum miliknya. Menurut dia, pemburu internasional, adalah pemburu konservasi yang penyayang binatang dan yang boleh diburu hanya binatang yang  sudah tua. Dan beliu mengakui semua perolahan serta apa yang dilakukannya tidak terlepas dari dukungan keluarga teristimewa istri tercinta.

Pendirian museum ini semua semata-mata hanya untuk memberi wawasan akan karunia Tuhan yang begitu indah, luar biasa dan berharga, sehingga harus dilestarikan. Tanpa wawasan tersebut, akan membuat semakin banyak spesies satwa punah dari muka bumi, kata Rahmat Shah kepada penulis. “Siapa saja yang mau berbicara soal lingkungan dan konservasi gratis berkunjung kemari,” kata dia.

“Dulu, saya masih sering melihat burung Perling di pohon mahoni di Jalan Diponegoro. Namun sekarang tidak ada lagi. Bahkan, saya yakin anak-anak kita tidak tahu bagaimana burung Perling tersebut. Itu contoh kepunahan satwa yang kita harapkan tidak terjadi lagi,” kata dia berilustrasi.

Di dalam museum ini terdapat berbagai satwa mulai dari burung, mamalia, serangga, hewan laut, hewan khas Indonesia, hewan khas Afrika, Kambing Gunung, Komodo dan berbagai jenis satwa lainnya. Semua hewan tersebut telah diawetkan dan terlihat persis seperti saat masih hidup. Museum ini sangat asyik dikunjungi belajar sejarah tentang satwa sambil wisata. (taniadepari)

Related News

Kedai Kita Simalem di Pasar Kampung Lalang

Redaksi

Rico Waas: UMKM Harus Dapat Ruang Tumbuh dan Berjejaring

Redaksi

Walikota Bangga RSUD Pirngadi Bantu Pelaksanaan Bakti Sosial Kejagung 

Redaksi