Hadiri Perayaan Natal Nasional di Sumut, Jakowi: Keragaman Harus Dirayakan dengan Sukacita

74
Presiden Jokowi menyampaikan pesan Natal pada acara Perayaan Natal Nasional tahun 2018 di Sumatera Utara, Sabtu (29/12/2018). Presiden mengucapkan Selamat Natal sekaligus mengucapkan Selamat Tahun Baru 2019, kiranya damai sejahtera selalu hadir di negara kita Indonesia, semoga Tuhan memberkati,” ujarnya. (Foto. ASARPUA.com/humpes)


ASARPUA.com – Medan – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) bersama sejumlah Menteri Kabinet Kerja, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi dan rombongan menghadiri perayaan Natal Nasional 2018 di Gedung Serbaguna Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), di Jalan William Iskandar, Medan, Sabtu (29/12/2018). Kepada puluhan ribu jemaat yang hadir, Jokowi berpesan, bahwa keberagaman harus dirayakan dengan suka

Presiden Jokowi mengatakan, Sumatera Utara (Sumut) memiliki ragam sapaan yang mencerminkan kemajemukan yang berwarna warni. Misalnya Mejuah juah di Karo, Horas, Njuah juah di Pakpak, Yaahowu di Nias dan lain sebagainya. Keragaman tersebut harus dirayakan dengan suka cita, lantaran hal itu merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa kepada Indonesia, khususnya Sumut.

“Dalam perayaan Natal kita juga perlu bersuka cita atas anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita Bangsa Indonesia, kita telah dianugrahi keragaman yang luar biasa, penduduk di negara kita sudah mencapai 260 juta, dan kita tahu bahwa negara kita dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa perbedaan majemuk,” kata Presiden.

Perbedaan, kata Presiden, bukanlah sebuah perpecahan. Perbedaan merupakan potensi besar Bangsa Indonesia. Aset terbesar bangsa Indonesia adalah kerukunan, persaudaraan dan persatuan. “Keragaraman bangsa Indonesia adalah kekuatan kita yang tidak mudah dikalahkan oleh siapapun, karena persatuan kita sangat kuat, kita harus meyakini ini, kita harus sadar bahwa kita semua adalah saudara sebangsa dan setanah air,” ujar Presiden.

Untuk itu, Presiden mengajak rakyat Indonesia, khususnya Sumut untuk menjaga dan merawat persatuan dan keragaman yang ada saat ini. “Kita syukuri dengan saling menghormati, menghargai, membantu dengan saling mengasihi,” pesannya.

Di akhir sambutannya, Presiden mengucapkan Selamat Natal kepada seluruh hadirin yang ada pada saat itu. “Sekaligus mengucapkan Selamat Tahun Baru 2019, kiranya damai sejahtera selalu hadir di negara kita Indonesia, semoga Tuhan memberkati,” ujarnya.

Turut hadir pada kesempatan tersebut sejumlah Menteri Kabinet Kerja, pimpinan lembaga negara,  bupati/walikota se Sumut, pimpinan gereja seluruh Indonesia. Serta ribuan masyarakat  yang  memadati gedung serbaguna dan sekitarnya.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, sebagai Ketua Panitia Natal Nasional 2018 mengapresiasi dukungan Gubsu Edy Rahmayadi dan tokoh agama di Sumut, termasuk pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Nahdatul Ulama, Muhammadiyah dan lainnya.

Di dalam rangka Natal Nasional 2018, panitia telah mengadakan bakti sosial memberikan bantuan kepada korban bencana alam Palu Donggala. Bantuan yang diberikan berupa renovasi mesjid dan gereja pakaian makanan obat obatan Al-quran dan Alkitab. Kegiatan tersebut masih akan tetap dilanjutkan dengan pemberian bantuan kepada korban bencana tsunami di Banten dan Lampung.

Perayaan Natal Nasional 2018 mempersembahkan orkestra gabungan dari 80 pemusik dari 4 provinsi. Diantaranya Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Barat, dan Yogyakarta. Selain itu acara juga didukung oleh koor raksasa sebanyak 1000 orang dari berbagai gereja dan etnis di Sumut. Serta 100 paduan suara anak-anak dari Pematang Siantar-Simalungun. (Foto. ASARPUA.com/humpes)

Perayaan Natal Nasional 2018 mempersembahkan orkestra gabungan dari 80 pemusik dari 4 provinsi. Diantaranya Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Barat, dan Yogyakarta. Selain itu acara juga didukung oleh koor raksasa sebanyak 1000 orang dari berbagai gereja dan etnis di Sumut. Serta 100 paduan suara anak-anak dari Pematang Siantar-Simalungun. Seluruh anggota koor tersebut menggunakan pakaian adat nusantara. “Mungkin ini adalah paduan suara terbesar yang pernah ada dalam sejarah perayaan natal di Indonesia, sekaligus sebagai simbol persatuan dan kesatuan Indonesia,” kata Yasonna Laoly. (as-01)