script google ads
EkbisHeadline

Baju Oholu, Nias Selatan Warisan Dunia di Bukit Matahari Berjaya di PRSU 2026

22
×

Baju Oholu, Nias Selatan Warisan Dunia di Bukit Matahari Berjaya di PRSU 2026

Sebarkan artikel ini
Tim Wartawan FWP saat bertugas dan mengunjungi Paviliun Nias Selatan di PRSU ke-50 Tahun 2026. Kabupaten Nias Selatan tetap memiliki magnet dengan wisata serta budayanya yang unik, sakral dan memiliki nilai sejarah. (Foto. Asarpua.com/tim)

ASARPUA.com – Medan – Kabupaten Nias Selatan, salah satu Kabupaten di Nias menyimpan keunikan peninggalan masa lampau terutama budaya, hombo batu (fahombo) di desa Bawomataluo yang menjadi salah satu pesona Pulau Nias khususnya Nias Selatan yang memiliki julukan Warisan Dunia di Bukit Matahari.

Memang zaman terus bergulir cepat seiring pesatnya kemajuan teknologi dan inovasi. Kecanggihan teknologi juga perlahan menyingkirkan apa yang selama ini kita miliki. Namun, hal itu tidak berlaku bagi peninggalan leluhur maupun budaya, yang saat ini masih dijaga keaslian maupun kelestariannya.

Seperti baju Oholu ini. Baju adat budaya masyarakat Nias Selatan ini masih terus eksis ditengah kemajuan zaman.

Baju ini disandingkan dengan baju adat yang sudah dipoles dengan warna dan jahitan lebih modern di Paviliun Kabupaten Nias Selatan, Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026.

Tidak berwarna maupun bordiran yang menarik di baju Oholu. Sepintas dilihat baju yang sedikit aneh.

Namun siapa menyangka, kalau baju Oholu ini adalah baju kebesaran masyarakat Nias pada ratusan tahun lalu.

“Kalau dahulu baju ini dipakai para raja-raja di Nias Selatan,” kata Keszia Zebua, staf Paviliun Kabupaten Nias Selatan kepada wartawan, Rabu (22/07/2026) malam.

Keszia menjelaskan, baju Oholu terbuat dari bahan rotan maupun kayu. Cara membuatnya pun unik, dipukul-pukul.

“Kenapa dipukul-pukul, itu untuk menghilangkan serat kayu atau rotan,” jelasnya.

Baju Oholu tidak dijahit dengan benang. Namun ketahanan baju tersebut biasa bertahun-tahun bahkan ratusan tahun.

“Yang penting perawatannya, sehingga baju ini bisa awet,” kata dia.

Pada zaman dahulu, tambahnya, masyarakat Nias Selatan untuk membuat baju tidak mengenal benang. Karena sumber daya alam yang berlimpah, leluhur memanfaatkan potensi kayu atau rotan untuk membuat segala kebutuhan di rumah termasuk baju.

“Kalau tidak biasa memakainya memang kurang nyaman, karena keras. Tapi masih ada juga yang memakainya,” ujarnya.

Untuk saat ini, baju Oholu masih terus dipakai untuk pertunjukkan tari-tarian adat di Nias Selatan. Itu semua tak lain untuk menjaga kelestarian Baju Oholu.  Mau tahu dan melihat langsung baju Oholu tersebut satang lah ke PRSU dan kunjungi Paviliun Nias Selatan. (Asarpua)