script google ads
Example 728x250
EdukasiHeadline

WKI Kolaborasi Kaukus Perempuan Parlemen RI Gelar Seminar Peran Wanita Karo Dalam Pewarisan Nilai Budaya

7
×

WKI Kolaborasi Kaukus Perempuan Parlemen RI Gelar Seminar Peran Wanita Karo Dalam Pewarisan Nilai Budaya

Sebarkan artikel ini
Ketua KP2 RI sekaligus Ketua Komite II DPD RI, Dr Badikenita Sitepu, SE MM yang menjadi keynote speaker dalam seminar Peranan Wanita aro dallas Pewarisan Budaya. (Foto. Asarpua.com/tim)

ASARPUA.com – Medan – Wanita Karo Indonsia (WKI) berkolabrasi dengan Kaukus Perempuan Parlemen (KP2) RI gelar seminar bertema: Peran Wanita Karo Dalam Pewarisan Nilai Budaya, dengan subtema: Wanita Karo sebagai penjaga warisan budaya : menguatkan peran, mewariskan nilai, membangun generasi berbudaya, di Gedung Sekretariat DPD RI Sumatera Utara (Sumut) Jalan Gajah Mada Medan, Rabu (22/07/2026)

Ketua KP2 RI sekaligus Ketua Komite II DPD RI, Dr Badikenita Sitepu, SE MM yang menjadi keynote speaker dalam seminar tersebut menyebutkan, perempuan Karo memiliki kedudukan yang sangat istimewa dan strategis, baik dalam tatanan adat maupun kehidupan bermasyarakat di tengah masyarakat secara nacional maupun global.

“Perempuan Karo adalah pilar keberlanjutan budaya di tengah perubahan zaman. Secara adat, perempuan Karo memegang peranan penting dan memiliki level yang tinggi. Karakter dasar perempuan Karo adalah mandiri dan independen. Perempan Karo sebagai anak beru menjadi bagian petting dałam adat,” ujar Badikenita.

Ia juga membagikan catatan kritis dan pengalamannya terkait dinamika kepemimpinan perempuan, termasuk berbagai tantangan serta hambatan kultural maupun usia yang kerap dihadapi saat menduduki posisi strategis di tingkat nasional.

Lewat rekam jejaknya mulai dari kepemimpinan di tingkat parlemen hingga berbagai organisasi nasional, Badikenita mengajak seluruh perempuan Karo untuk tidak gentar menghadapi tantangan zaman.

Dikatakannya, suatu negara rusak bukan karena banyak orang jahat, tapi karena banyaknya orang yang benar diam. Untuk itu dia mengajak wanita Karo mengambil peran aktif, menyiapkan kader dalam dunia politik. Jangan anti politik. Dukungan keluarga juga sangat berperan penting karena menambah kepercayaan diri yang luar biasa.

Ketua WKI Prof Dr Maria Kaban, SH MHum dalam sambutannya saat pembukaan seminar berterimakasih kepada Ketua Dr Badikenita Sitepu yang memfasilitasi acara ini. Dikatakan, tujuan acara ini dibuat untuk meningkatkan.pemahaman masyarakat mengenai peranan strategis wanita Karo dalam pewarisan nilai budaya. Mengidentifikasi bentuk-bentuk pewarisan budaya yang dilakukan wanita dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Mendiskusikan tantangan yang dihadapi wanita dalam menjaga keberlanjutan budaya Karo. Membangun jejaring kolaborasi antar organisasi wanita perempuan, lembaga adat, akademisi, pemerintah dan masyarakat dalam pelestarian budaya.

Dia berharap perempuan Karo dapat terus meningkatkan kapasitas diri, memberikan edukasi berkelanjutan kepada generasi muda, serta berani mengambil peran aktif dalam pengambilan keputusan demi kebaikan masyarakat luas.

Sebelumnya Ketua Panitia Prof Eva Marlina Ginting mengatakan, acara ini dilakukan untuk berbagi pemikiran, pengalaman dan wawasan serta gagasan mengenai peran strategis wanita Karo dalam mewariskan budaya kepada generasi muda. Wanita Karo memiliki peran penting dan strategis dalam keluarga dan masyarakat, tidak hanya sebagai ibu dan pendidik pertama bagi anak-anak, tapi juga sebagai penjaga bahasa, adat istiadat, nilai-nilai budaya serta identitas budaya Karo.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, tantangan yang kita hadapi untuk menjaga jati diri budaya semakin besar. Oleh karena itu, diperlukan komitmen bersama agar budaya Karo tetap hidup, berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Acara ini menghadirkan 3 orang nara sumber narasumber lintas profesi, yakni seniman Karo Saksi Sebayang, praktisi hukum Dr. Elieka Sari, serta Akademisi yang juga Dosen FISIP USU Dr. Sri Alem Sembiring.

Dr Seri Alem Sembiring dalam pemaparannya antara lain mengatakan bahwa keluarga rumah adalah arena utama salam reproduksi budaya. Di dalam arena inilah perempuan menjadi penggerak utama pewarisan nilai dan karakter antar generasi. (Asarpua)

Example 300x250