Ngeri, Gempa Tektonik di Samudra Hindia Terjadi Hitungan Detik Setelah Erupsi Sinabung

250
Ilustrasi

ASARPUA.com – Jakarta – Erupsi hebat Gunung Sinabung yang mengeluarkan suara gemuruh yang jauh, Minggu (09/06/2019) sekitar pukul 16.28 WIB.

Selanjutnya sekitar 4 menit kemudian terjadi gempa tektonik pertama di Samudra Hindia yaitu pukul 16.32 WIB, Minggu (09/06/2019) di Samudra Hindia Selatan Cilacap. Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan informasi awal gempa ini berkekuatan M 5,7.

Lalu dalam rentang waktu beberapa menit kemudian terjadi lagi gempa tektonik kedua di Samudra Hindia tepatnya di Selatan Bali. Kedua ini gempa tidak berpotensi tsunami.

Kekuatan gempa selanjutnya dimutakhirkan menjadi M 5,5. Episenter terletak pada koordinat 8,68 LS dan 108,82 BT tepatnya di laut pada jarak 107 km arah selatan Kota Cilacap, pada kedalaman 64 km.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan hiposenternya, tampak gempa ini merupakan gempa menengah akibat deformasi batuan pada Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi ke bawah Lempang Eurasia di selatan Cilacap. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dibangkitkan penyesaran naik (thrust fault),” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono dalam keterangan tertulis.

Guncangan gempa ini dirasakan di Pangandaran, Cilacap, Ciamis, Kebumen dalam skala intensitas III MMI dan Bandung dalam skala intensitas II MMI.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan namun demikian gempa ini membuat banyak warga panik dan berlarian ke luar rumah. Patut disyukuri bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami,” sambungnya.

Daryono menjelaskan, wilayah selatan Cilacap dan Pangandaran merupakan kawasan seismik aktif yang memiliki potensi gempa kuat.

BMKG mencatat belum lama ini juga terjadi gempa signifikan di Cilacap yaitu pada 18 Mei 2019 dengan kekuatan M 5,6. Gempa ini mengguncang Pangandaran, Kebumen, Tasikmalaya, Cilacap, Banyumas, Karangkates, Blitar, Tulungagung hingga Kediri dalam skala intensitas II-III MMI. Guncangan gempa saat itu menurut Daryono, menyebabkan banyak warga panik dan berlarian keluar rumah.

Catatan katalog BMKG sejak tahun 1940 menunjukkan di zona ini sudah terjadi gempa kuat sebanyak 6 kali, yaitu pada 21 Maret 1940 (M 6,3), 7 September 1974 (M 6, 5). Kemudian 24 Juli 1979 (M 6,9), Tsunami merusak 17 Juli 2006 (M 7,7), 3 Maret 2011 (M 6,7), dan 13 Juni 2013 (M 6,7).

“Dengan memperhatikan tingginya potensi gempa di wilayah ini maka penting untuk terus menggalakkan upaya mitigasi gempa bumi dan tsunami,” ujar Daryono.

Setelah gempa Cilacap hari ini, Samudra Hindia selatan Bali juga diguncang gempa tektonik berkekuatan M 5,1. Episenter terletak pada koordinat 11,75 LS dan 115,64 BT tepatnya dilaut pada jarak 344 km arah selatan Denpasar dengan kedalaman 10 km.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dipicu penyesaran dengan pergerakan turun (normal fault) sementara pemodelan menunjukkan tidak berpotensi tsunami,” terang Daryono.

Daryono mengatakan, gempa di selatan Bali ini berpusat di Zona Outer Rise bila dilihat dari lokasi episenter dan hiposeternya.

“Peristiwa gempa ini memberi petunjuk kepada kita akan aktifnya zona sumber gempa di luar zona subduksi selatan Bali sebagaimana Zona Outer Rise selatan Sumbawa,” kata dia.

Zona Outer Rise Sumbawa dijelaskan Daryono pernah memicu gempa berkekuatan M 8,3 dan membangkitkan tsunami setinggi 8 meter pada 19 Agustus 1977 hingga menelan korban jiwa sebanyak 198 orang tewas dan hilang di pantai selatan Sumbawa.

“Sampai malam ini hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas gempa selatan Cilacap dan selatan Bali menunjukkan belum ada aktivitas gempa susulan (aftershock). Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tutur Daryono. (as-red-detik.com)