Potensi Hutan Sumut Luas Biasa dan Bernilai Ekonomi Tinggi

52
Gubsu Edy Rahmayadi berdikusi mengenai pemanfaat hutan di Sumut bersama Pusat Penelitian Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di rumah dinas Gubsu Jalan Sudirman Medan, Rabu (10/07/2019). (Foto. ASARPUA.com/humpes)

ASARPUA.com – Medan – Hutan di Sumatara Utara (Sumut) ternyata memiliki potensi yang sangat luar biasa dan sulit menemukan duanya di Indonesia. Jika dikelola dengan baik akan bernilai ekonomi tinggi dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumut.

Hal itu terungkap dalam diskusi Gubernur Sumut (Gubsu) Edy Rahmayadi dengan Kepala Pusat Penelitian Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Dwi Sudarto, dan para pimpinan OPD Pemprovsu tentang Pemanfaatan Hutan Sumut, di Rumah Dinas Gubsu, Jalan Sudirman, Medan, Rabu (10/07/2019).

Dwi Sudarto mengatakan, banyak hasil hutan Sumut yang memiliki nilai komersial tinggi, namun belum dikelola dengan baik. Seperti limbah batang sawit yang ditebang saat replanting, aren yang diubah menjadi bioetanol, asap cair untuk pestisida alami, kemenyan dan budidaya kacang macademia intregrafolia.

“Sumatera Utara produsen kelapa sawit terbesar ke dua di Indonesia, dengan luas lahan sekitar 2,5 juta Ha. Selama ini limbah batang sawit setelah replanting, karena tidak boleh dibakar petani mencacahnya, dibiarkan busuk. Itu menimbulkan masalah baru, hama, karbon padahal itu bisa kita manfaatkan untuk perkayuan, menjadi pintu, jendela, lemari, kayu lapis dan fancy floring,” katanya.

Dengan sedikit usaha, menurutnya, batang sawit yang dianggap limbah bisa dibuat mempunyai nilai ekonomis. Hal itu sudah dipamerkan di Jerman, Postdam 28-29 Juni dan di Saarbrucken pada 26 Juni 2019.

“Respons mereka sangat positif dan mereka antusias. Begitu juga dengan parfum dari kemenyan, ternyata kemenyan ini pengikat parfum yang sangat baik, sehingga tidak butuh alkohol dan pengembangan parfum ini di LHK Aek Nauli. Parfum ini menjadi buah bibir di sana,” kata Dwi Sudarto.

Tidak hanya menjadi parfum, Sudarto juga menjelaskan pemanfaatkan kemenyan untuk pembuatan propolis yang berkhasiat sebagai anti mikroba, antibiotik alami, dan juga anti kanker.

Potensi lainnya dari hutan Sumut adalah aren. Kementrian LHK berhasil mengubah aren menjadi bioethanol sebagai alternatif bahan bakar rumah tangga, campuran premium untuk kendaraan dan genset, bahkan juga untuk parfum dan pupuk cair. Pemanfaatan aren untuk dijadikan alternatif bahan bakar sudah diimplementasikan Desa Butomoito, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.

Selain itu, saat ini juga sedang diupayakan digerakkan secara besar-besaran di kawasan Danau Toba untuk budidaya kacang Macademia Intregrafolia. LHK sudah melakukan riset untuk membudidayakannya di kawasan Sipiso Piso dan menurut keterangan Dwi, kacang ini tumbuh dengan baik.(as-01