Pemulihan Kredit Macet di Era New Normal

898
Hendi Aryanta Tarigan Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN (Foto. ASARPUA.com/handover)

Oleh: Hendi Aryanta Tarigan Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN

Pandemi Covid-19 saat ini sudah menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia . Hal ini sangat berdampak di banyak sektor, khususnya pada perekonomian. Banyak kegiatan perekonomian yang tidak dapat berjalan dengan baik, terlebih lagi kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tidak dapat beroperasi seperti biasanya.

Hal itu mengakibatkan pengusaha-pengusaha UMKM yang terdampak pandemi mengalami penurunan drastis terkait penerimaannya. Terlebih lagi bagi pengusaha-penguasa UMKM yang menggunakan pinjaman dibank untuk menjadi modal awal usahanya, tentunya mengalami kesulitan untuk membayar cicilan kreditnya, yang pada akhirnya mengakibatkan kredit macet.

Kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) adalah kredit yang bermasalah dimana debitur tidak dapat memenuhi pembayaran tunggakan peminjaman dan bunga dalam jangka waktu yang telah disepakati dalam perjanjian. Hal ini tentu saja sangat meresahkan bank, dikarenakan peningkatan kredit macet atau non-performing loan (NPL) mengakibatkan berkurangnya permodalan pada bank. Hal ini membuat bank harus memperkuat strutur permodalannya, sehingga perputaran kas pada perbankan terhambat.

Kondisi ini dapat membuat bank mengurangi penyaluran kredit kepada masyarakat yang pada akhirnya akan memengharui perekonomian nasional.
Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meresponi hal ini dengan mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 Tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Dalam Peraturan OJK ini diatur bagaimana cara OJK untuk menangani kredit macet tersebut, yaitu dengan melakukan restrukturisasi kredit/pembiayaan yang dilakukan sebagaimana diatur dalam peraturan OJK mengenai penilaian kualitas asset. Caranya antara lain dengan penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu, pengurangan tunggakan pokok, pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit/pembiayaan, dan/atau, konversi kredit/pembiayaan menjadi Penyertaan Modal Sementara. Melalui kebijakan ini diharapkan masyarakat yang terkena dampak pandemi Covid-19 dapat pulih kembali.

Saat ini Indonesia mulai memasuki era new normal. Tentunya banyak hal-hal yang perlu disesuaikan untuk memasuki era new normal ini, tidak terkecuali untuk perekonomian. Saat ini kita harus memunculkan ide-ide kreatif untuk melakukan stimulus perekonoman. Selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mungkin banyak kegiatan-kegiatan perekonomian yang terkendala akibat pembatasan sosial tersebut.

Banyak pengusaha UMKM yang belakangan ini mengalami penurunan omset dikarenakan kesulitan dalam menjalankan usahanya, yang pada akhirnya pengusaha-penguasaha yang memiliki kredit pada bank atau lembaga keuangan lainnya menjadi kesultan untuk membayar cicilan kredit dan bunga utangnya.

Oleh karena itu, inilah saatnya untuk kita memutar kembali pola pikir kita untuk membangkitkan usaha yang selama ini terhambat agar bisa bangkit kembali. Dengan itu diharapkan kesulitan ekonomi yang selama ini terjadi akibat PSBB dapat normal kembali memasuki era new normal ini dan pelaku-pelaku usaha UMKM yang mengalami kredit macet bisa membayar kreditnya kembali.

Lalu hal apa saja yang harus dilakukan masyarakat yang ingin melakukan kegiatan usaha UMKM memasuki era new normal ini? Berikut ini saya berikan tips and tricks bagi pihak-pihak yang ingin melakukan kegiatan usaha :
1. Tetap perhatikan protokol kesehatan Covid-19
Hal utama yang harus diperhatikan sebelum memulai kegiatan usaha selama pandemi Covid-19 ini tentunya adalah untuk tetap memerhatikan protokol kesehatan Covid-19. Kita harus dapat memastikan bahwa setiap usaha yang kita lakukan terjamin kesehatannya, sehingga setiap orang yang menggunakan barang/jasa kita menjadi yakin untuk memilih barang/jasa kita. Terlebih lagi untuk saat ini, sebelum menggunakan barang/jasa konsumen pastinya akan memastikan terlebih dahulu barang/jasa tersebut aman dan terjamin kesehatannya . Sehingga sangat penting untuk tetap mengikuti protokol kesehatan COVID-19 sebelum memulai usaha.

2. Mencari inovasi-inovasi usaha terbaru selama Covid-19
Selama pandemi Covid-19 ini mungkin banyak usaha-usaha yang pemintaannya mulai berkurang akibat pandemik ini. Oleh karena itu,kita harus bisa melihat peluang usaha yang ada di pasar saat ini. Kita harus dapat melihat barang/jasa yang saat ini diminati oleh masyarakat misalnya hand sanitizer, jasa penyemprotan disinfektan, dan usaha lainnya. Kita harus benar -benar bisa melihat usaha-usaha yang menjanjikan pada saat ini.

3. Memanfaatkan Media Online
Dimasa pandemik Covid-19 ini penggunaan media online semakin meningkat. Tentunya kita harus bisa mengambil peluang dari hal tersebut. Pertama kita bisa memanfaatkan aplikasi jasa ojek online yang menyediakan layanan untuk mengantar makanan, Jika selama ini kita merupakan seorang pengusaha makanan, kita dapat menggunakan layanan tersebut untuk memasarkan produk kita melalui jasa ojek online tersebut. Hal tersebut tentu saja sangat menjanjikan menginggat saat ini semakin banyak konsumen yang membeli makanan melalui media ojek online. Kedua, kita bisa mengiklankan produk kita melalui media sosial, misalnya saja dengan membuat postingan-postingan yang menarik terkait barang atau jasa yang kita jual sehingga konsumen tertarik untuk membeli atau menggunakan produk kita.

Walaupun pandemik Covid-19 menghambat perekonomian kita, namun kita harus bisa berinovasi dan menyesuaikan dengan keadaan saat ini. Kita harus membuat hal-hal yang dapat membuat keadaan kita normal kembali terutama bagi pengusaha UMKM yang memiliki kredit macet, sehingga dengan ini akan mengembalikan kemampuannya untuk membayar kredit macet tersebut. Hal ini tentu saja mengakibatkan penurunan kredit macet dan pastinya dengan ini diharapkan perekonomian bisa kembali normal.

Namun tentu saja, pelaku-pelaku usaha tidak bisa bekerja sendiri ditbutuhkan dukungan pemerintah baik itu pusat maupun daerah agar pelaku-pelaku UMKM ini bisa benar-benar bangkit dari keterpurukan selama masa PSBB pandemik Covid-19. Pemerintah dapat memberikan stimulus perekonomian untuk memancing pergerakkan pasar, sehingga pelaku-pelaku usaha UMKM dapat menjalankan usahanya. Pemerintah juga dapat memberikan bantuan baik itu bantuan tunai maupun non tunai bagi pihak-pihak yang ingin menjalankan usahanya kembali. Sehingga pelaku-pelaku usaha UMKM bisa menjalankan kegiatan usaanya dengan baik dan diharapkan kredit macat yang terus meningkat selama PSBB ini dapat turun kembali.

Covid-19 memang memberikan banyak dampak negatif bagi kita, namun kita harus bisa menyikapinya dengan melakukan inovasi-inovasi terbaru. Sehingga di era new normal ini dengan norma-norma yang baru, keadaan dapat kembali menjadi normal dan pembayaran kredit pun juga dapat kembali normal. (asarpua)