ASARPUA.com – Yogyakarta – Juli 2026 – Live shopping telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat, sementara tautan afiliasi (affiliate link) kini telah menjadi bagian yang lumrah dalam proses belanja online. Keduanya merupakan pilar utama dalam perdagangan digital (e-commerce) modern, namun cara kerjanya sama sekali berbeda.
Jakpat mengadakan survei untuk mengetahui tren live shopping dan tautan afiliasi saat ini. Laporan ini disusun berdasarkan tanggapan dari 1.714 partisipan yang berbelanja secara online di seluruh Indonesia.
Daya Pikat Live Shopping: Berburu Diskon hingga Cek Kondisi Produk
Live shopping telah menjadi kebiasaan yang lumrah di masyarakat, di mana sebagian besar konsumen rutin menonton sesi tersebut (92%). Tingkat keterlibatan (engagement) yang tinggi ini mendorong tindakan nyata secara instan, terbukti dengan lebih dari separuh responden yang telah melakukan pembelian dalam enam bulan terakhir.
Dari segi demografi, perempuan menjadi kelompok yang paling banyak melakukan pembelian di live shopping (62%). Sementara, Milenial (59%) dan Gen X (58%) lebih suka menonton sesi tersebut dibanding Gen Z (51%).
“Meski tingkat keterlibatannya tinggi di semua generasi, alasan konsumen mengikuti live shopping tidak selalu sama. Sebagian mencari penawaran menarik, sementara yang lain memanfaatkannya untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap sebelum membeli. Hal ini menunjukkan bahwa live shopping mampu menjawab kebutuhan konsumen yang beragam dalam satu pengalaman belanja yang sama,” ucap Lead Researcher Jakpat, Farida Hasna.
Promo dan diskon menjadi alasan terbesar responden belanja lewat live shopping (71%). Pertimbangan lain adalah harga yang lebih murah (66%) dan bisa bertanya langsung kepada penjual (65%). Gen Z cenderung lebih memikirkan review produk, tip, atau perbandingan dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Shopee Live mendominasi pasar live shopping dengan popularitas yang seimbang di antara kedua gender (pria dan wanita) di mana 3 dari 4 memakai platform tersebut. TikTok Live Shopping menempati posisi kedua (56%), dengan dominasi pembeli wanita.
Affiliate Link: Ramai Diklik, Belum Tentu Dibeli
Tautan afiliasi (affiliate link) sangat efektif untuk mendatangkan lalu lintas (traffic), terbukti dengan 83% konsumen yang pernah membukanya. Namun, mengubah rasa penasaran tersebut menjadi penjualan merupakan tantangan tersendiri, karena kurang dari 40% konsumen yang melakukan pembelian dalam waktu setengah tahun terakhir.
“Affiliate link membuka peluang bagi brand untuk menjangkau konsumen di berbagai kelompok. Namun, respons terhadap dorongan tersebut dapat berbeda tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing konsumen. Karena itu, memahami karakteristik setiap segmen menjadi penting agar strategi affiliate tidak hanya mampu mendatangkan traffic, tetapi juga mendorong keputusan pembelian,” papar Hasna.
Pembelian melalui tautan afiliasi terbilang sangat konsisten di berbagai gender dan generasi, dengan tingkat konversi sekitar 40%. Di sisi lain, tingkat pendapatan menjadi faktor pembeda yang utama, di mana angka pembelian menurun drastis di kalangan konsumen berpendapatan rendah.
E-commerce mendominasi total traffic tautan afiliasi dengan tingkat adopsi mencapai 95% di semua demografi. Di posisi kedua, dengan selisih drastis, ada quick-commerce dengan persentase 15%, yang lebih memikat kaum pria dan Milenial. Sementara, WhatsApp Business di posisi ketiga, dengan basis terkuat di kalangan Gen X.
Mau tahu informasi perilaku konsumen lainnya terkait live shopping dan affiliate link lebih detail? Dapatkan hasilnya dalam laporan Jakpat “Live Shopping & Affiliate Links: Demographic Insights” pada tautan berikut: https://insight.jakpat.net/














