ASARPUA.com – Medan – Kalau masih ada yang mengira keterbatasan adalah penghalang untuk berkarya, mungkin sudah waktunya mampir ke Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara di PRSU ke-50 tahunan 2026. Di sana, yang dipamerkan bukan rasa iba, melainkan rasa kagum.
Mewakili Kabid SLB Dinas Pendidikan Sumut, Edy Junianto bercerita bahwa salah satu daya tarik Hall Disdik adalah songket khas Batu Bara yang ditenun langsung oleh siswa-siswi tuna rungu. Empat pelajar terlibat dalam proses pembuatannya. Hasilnya bukan sekadar kain, tetapi karya bernilai seni yang telah membuktikan kualitasnya di mata pengunjung.
Songket tersebut dijual seharga Rp550 ribu per lembar. Selama penyelenggaraan PRSU, sudah empat lembar berhasil terjual. Menurut Edy, harga itu justru tergolong terjangkau jika melihat kerumitan motif, kualitas benang, dan waktu yang dibutuhkan dalam proses pembuatannya.
“Kalau dihitung prosesnya, sebenarnya yang mahal bukan kainnya, tetapi kesabaran dan ketelatenannya,” begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan melalui karya para siswa.
Kepala SLB Negeri Batu Bara, Siti Maryam, menjelaskan songket diproduksi dalam beberapa pilihan. Untuk bahan pakaian dijual sekitar Rp450 ribu, sedangkan jika ditambah selendang dibanderol Rp550 ribu. Semuanya dikerjakan dengan teliti oleh tangan-tangan terampil para siswa.
Namun kreativitas mereka tidak berhenti pada selembar kain. Di sudut lain Hall Disdik, pengunjung juga menemukan keranjang cantik hasil daur ulang kertas seharga Rp50 ribu. Ada pula tandok dijual mulai Rp10 ribu, hasil karya siswa SLB.
Kemampuan menjahit juga menjadi salah satu kebanggaan sekolah. Beberapa siswa tuna rungu (anak yang mengalami hambatan atau kehilangan kemampuan mendengar, baik sebagian maupun seluruhnya), seperti Farel dan Putri, menghasilkan berbagai produk jahitan yang menunjukkan bahwa keterampilan bisa berbicara lebih lantang daripada keterbatasan.
Sementara itu, siswa tuna grahita (anak yang memiliki hambatan dalam fungsi intelektual serta kemampuan adaptif) juga menghasilkan keset yang dipasarkan seharga Rp17 ribu. Ada pula karya dari siswa tuna daksa (anak memiliki hambatan fungsi gerak atau fisik, baik karena kelainan anggota tubuh maupun kondisi tertentu sejak lahir atau akibat kecelakaan maupun penyakit) yang terus mengembangkan keterampilan sesuai potensi masing-masing. Sebagian di antara mereka bahkan aktif mengikuti pembinaan olahraga melalui National Paralympic Committee (NPC).
Pesan ini sederhana. Kadang orang yang fisiknya lengkap masih berkata, “Aku tidak berbakat.” Sementara anak-anak di Hall Disdik memilih menjawabnya dengan karya. Mereka tidak banyak mencari alasan, tetapi sibuk menyelesaikan pekerjaan.
Saat ini, SLB Negeri Batu Bara memiliki sekitar 200 siswa dengan berbagai karakteristik kebutuhan belajar, termasuk siswa tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, hingga sekitar delapan siswa autis. Pada tahun ajaran 2026, terdapat 32 siswa baru, yang didominasi anak-anak tuna grahita, tuna rungu, dan autis.
Menurut Siti Maryam, keberadaan SLB bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang tumbuh yang aman bagi setiap anak. Khusus bagi anak autis, lingkungan sekolah memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman seusia, membangun komunikasi, melatih kemandirian, dan berkembang dalam lingkungan yang memahami kebutuhan mereka.
Karena itu, Hall Disdik di PRSU di bawah kendali Kepala Dinas Pendidikan Provsu, Alexander Sinulingga, S.STP., M.Si bukan sekadar tempat melihat hasil kerajinan tapi jadi ruang untuk berdiskusi untuk kemajuan anak-anak. Ia menjadi panggung yang menunjukkan kreativitas tidak pernah memilih siapa yang boleh berkarya. Yang membedakan hanyalah kesempatan dan dukungan diberikan.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Hall Disdik Sumut. Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru kadang, mereka yang dianggap memiliki keterbatasan mampu menghasilkan karya yang membuat kita sadar, selama ini yang kurang bukan kemampuan mereka, melainkan penghargaan kita terhadap hasil kerja mereka. (Asarpua)














