EdukasiHeadline

UINSU Wisuda 2.038 Lulusan, Rektor Prof. Nurhayati: Gelar itu Amanah Harus Dibuktikan Melalui Karya Tulis

39
×

UINSU Wisuda 2.038 Lulusan, Rektor Prof. Nurhayati: Gelar itu Amanah Harus Dibuktikan Melalui Karya Tulis

Sebarkan artikel ini
Rektor UINSU Medan Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag diabadikan bersama salah seorang lulusan terbaik pada wisuda ke-89. (Foto. Asarpua.com/humas)

ASARPUA.com – Medan – Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan Prof. Dr. Nurhayati, M.Ag mengingatkan para lulusan agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai sekadar simbol keberhasilan.

Maksudnya, gelar merupakan amanah yang harus dibuktikan melalui karya, integritas, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Demikian disampaikan Nurhayati saat memimpin Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-89 UINSU Medan di Gelanggang Mahasiswa Gedung HM Arsyad Thalib Lubis, Kampus I UINSU, Jalan IAIN/Sutomo Ujung, Medan, Sabtu (26/09/2026).

Dalam wisuda tersebut, UINSU Medan melepas 2.038 wisudawan dan wisudawati dari berbagai jenjang pendidikan.

Dari 2.038 lulusan tersebut antara lain 506 lulusan dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), 164 dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 100 dari Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, 376 dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, 284 dari Fakultas Syariah dan Hukum, 269 dari Fakultas Sains dan Teknologi, 165 dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, 119 dari Fakultas Ilmu Sosial, serta 55 lulusan Program Pascasarjana.

Nurhayati mengatakan, wisuda bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal dari perjalanan baru para lulusan di tengah masyarakat.

“Hari ini saudara tidak sedang menutup sebuah perjalanan, tetapi membuka lembaran baru dalam perjalanan kehidupan,” kata Nurhayati.

Ia menegaskan, ilmu yang diperoleh selama menjalani pendidikan di UINSU tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus berkembang menjadi gagasan, karya, dan tindakan yang memberikan manfaat.
Karena itu, ia mengajak para lulusan menghayati tema wisuda, “Alumni Berdampak, Berkolaborasi dan Berkontribusi untuk Kemandirian Bangsa.”

Menurut Nurhayati, tema tersebut bukan sekadar slogan, tetapi pesan moral sekaligus panggilan tanggung jawab bagi seluruh alumni.

“Keberhasilan alumni pada akhirnya diukur dari seberapa besar keberadaannya menghadirkan manfaat. Ilmu yang saudara miliki harus mampu menjawab persoalan, keahlian yang saudara kuasai harus mampu menghadirkan solusi, dan integritas yang saudara bangun harus mampu melahirkan kepercayaan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan bahwa dunia yang mereka masuki saat ini terus berubah. Transformasi digital, kecerdasan artifisial, perubahan ekonomi, dinamika sosial, perkembangan industri, persoalan lingkungan hingga kompetisi global menghadirkan peluang sekaligus tantangan.

Dalam kondisi tersebut, kata dia, alumni tidak cukup hanya menjadi pencari kerja atau job seeker. Mereka harus mampu berkembang menjadi pemecah masalah, inovator, kolaborator, bahkan pencipta lapangan kerja.

“Jangan bertanya hanya, di mana saya akan bekerja? Tetapi mulailah bertanya, persoalan apa yang dapat saya selesaikan dengan ilmu yang saya miliki?” pesannya.

Nurhayati juga mendorong para alumni membangun jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari sesama alumni, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan dunia industri hingga masyarakat. Ia menyebut kolaborasi sebagai kemampuan mempertemukan berbagai perbedaan untuk menghasilkan kekuatan yang lebih besar demi tujuan bersama.

“Alumni harus menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat; antara kampus dan dunia kerja; antara pemerintah dan masyarakat; antara inovasi dan pemanfaatannya; serta antara potensi lokal dan peluang global,” katanya.

Lebih jauh, Nurhayati menekankan bahwa kemandirian bangsa tidak lahir secara tiba-tiba. Kemandirian membutuhkan manusia berpendidikan dan produktif, ekonomi yang kuat, penguasaan teknologi, pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, serta karakter bangsa yang kokoh.

Karena itu, ia meminta para alumni tidak memandang kontribusi harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

“Bangsa ini dibangun oleh jutaan kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten, dengan ilmu, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian,” tuturnya.

Nurhayati juga menyampaikan pesan yang cukup kuat mengenai makna gelar akademik. Menurutnya, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab sosial yang melekat padanya.

“Gelar bukan mahkota. Gelar adalah amanah. Jangan biarkan gelar hanya tertulis di belakang nama. Biarkan gelar itu hadir dalam perilaku, ilmu terlihat dalam keputusan, pendidikan tercermin dalam integritas, dan kompetensi terbukti melalui karya,” tegasnya.

Ia berharap para alumni UINSU tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi mampu membuka ruang bagi orang lain untuk tumbuh dan berkembang.

“Jangan hanya menjadi orang yang sukses. Jadilah orang yang memberikan arti. Jangan hanya mencari tempat untuk berdiri. Ciptakan tempat agar orang lain dapat tumbuh,” pesannya.

Dalam kesempatan itu juga , Nurhayati juga memberikan penghormatan khusus kepada para orang tua dan keluarga wisudawan.
Ia mengatakan, di balik toga yang dikenakan para lulusan terdapat doa, pengorbanan, kerja keras, bahkan air mata orang tua yangp mengiringi perjalanan pendidikan anak-anak mereka.

“Hari ini, doa itu menemukan salah satu jawabannya. Tetapi perjalanan anak-anak kita belum selesai. Justru hari ini, perjalanan pengabdian mereka dimulai,” katanya. Nurhayati meminta para orang tua tetap memberikan doa dan restu kepada anak-anak mereka, meski telah menyandang gelar akademik dan memasuki dunia profesional.

Menurutnya, gelar dan pekerjaan tidak membuat seorang anak berhenti membutuhkan doa orang tua.

“Ketika seorang anak telah memiliki gelar, ia tetap membutuhkan doa orang tuanya. Ketika seorang anak telah memiliki pekerjaan, ia tetap membutuhkan restu orang tuanya. Dan ketika seorang anak telah mencapai keberhasilan, ia tetap membutuhkan rumah untuk kembali,” ujarnya.

Mengakhiri pesannya, Nurhayati meminta para lulusan membawa nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UINSU, seperti ilmu, iman, akhlak, integritas, moderasi, kepedulian dan pengabdian.

“Berdampaklah dalam karya, berkolaborasilah dalam membangun. Berkontribusilah dalam pengabdian. Dan jadikan ilmu sebagai jalan menuju kemandirian bangsa,” katanya.

Rektor berharap UINSU tidak hanya melahirkan alumni yang memiliki gelar, tetapi juga alumni yang meninggalkan jejak dan manfaat bagi masyarakat.

“Bukan sekadar alumni yang dikenal, tetapi alumni yang dirasakan manfaatnya. Bukan sekadar alumni yang berhasil, tetapi alumni yang membuat orang lain ikut berhasil,” pungkasnya. (Asarpua)

Penulis: Serasi Sembiring