HeadlineMedan

Gubsu Bobby Ingin Olahraga Sumut Jadi Industri Berdaya Saing

6
×

Gubsu Bobby Ingin Olahraga Sumut Jadi Industri Berdaya Saing

Sebarkan artikel ini
Gubsu Bobby Nasution pimpin rapat bersama Pj Sekdaprovsu Sulaiman Harahap dan sejumlah pimpinan OPD Pemprovsu, membahas rencana strategis pengelolaan dan pengembangan olahraga menjadi industri, di Ruang Rapat Lantai 10 Kantor Gubsu, Jalan Diponegoro 30 Medan, Selasa (11/08/2026). (Foto. Asarpua.com/diksu)

ASARPUA.com – Medan – Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Bobby Nasution dorong transformasi dunia olahraga menjadi industri yang mandiri, profesional, dan berdaya saing. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memperkuat ekosistem olahraga sekaligus mendukung pembentukan atlet-atlet berprestasi di Sumut.

Hal itu disampaikan Gubsu Bobby Nasution saat menggelar rapat bersama Pj Sekdaprovsu Sulaiman Harahap dan sejumlah pimpinan OPD Pemprovsu, membahas rencana strategis pengelolaan dan pengembangan olahraga menjadi industri, di Ruang Rapat Lantai 10 Kantor Gubsu, Jalan Diponegoro 30 Medan, Selasa (11/08/2026).

Dalam penjelasannya, Gubsu Bobby Nasution menyampaikan bahwa olahraga merupakan salah satu sektor yang banyak diminati masyarakat. Berbagai fasilitas menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangannya, sementara Sumut saat ini telah memiliki sejumlah sarana olahraga yang memadai, bahkan bertaraf internasional. Karena itu, diperlukan desain besar agar transformasi olahraga menjadi industri dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Banyak orang yang mau melihat (menonton), dan banyak juga yang mau bermain, terutama seluruh atlet. Tetapi bagaimana agar banyak juga yang berkontribusi memajukan olahraga. Caranya adalah, bagaimana bidang ini bisa menghasilkan pemasukan. Tentu dengan bertransformasi ke industri. Dan ini harus kita mulai dari diri sendiri, pemerintah provinsi,” ujar Gubsu Bobby Nasution.

Pasca perhelatan akbar Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024, Sumut kini memiliki berbagai sarana olahraga yang memadai dan menjadi kebanggaan daerah. Di antaranya Stadion Utama, Stadion Madya, dan fasilitas olahraga lainnya di kawasan Pusat Olahraga Desa Sena, Deliserdang, sejumlah gedung olahraga di kawasan Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumut, Jalan William Iskandar, Medan, serta berbagai fasilitas olahraga lainnya.

Namun, menurut Bobby, keberadaan berbagai fasilitas tersebut harus diikuti dengan pengelolaan yang maksimal, terutama dalam aspek pemeliharaan dan pemanfaatannya.

“Tentu ini merupakan satu langkah yang bagus, dimana setiap kegiatan yang berlangsung mendatangkan keuntungan dan pemasukan bagi daerah. Tetapi ada hal yang lebih besar, bagaimana kita menjadikan olahraga ini kedepannya bisa disenangi, bisa dinikmati, selain bisa menghasilkan. Jadi harus ada rencana besar (Grand Design) yang bisa ditinggalkan (ditetapkan), bukan hanya untuk kegiatan tertentu. Melainkan gerakan-gerakan masyarakat yang bisa melaksanakannya secara rutin, baik setiap hari, setiap pekan, bulan dan tahun,“ jelas Bobby Nasution.

Bobby juga menekankan pentingnya memastikan setiap kegiatan, mulai dari pelatihan, pertandingan hingga turnamen, dapat meningkatkan kualitas atlet Sumut. Apalagi, dari sisi jumlah penduduk, Sumut merupakan salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, sehingga perlu diikuti dengan peningkatan prestasi olahraga di tingkat nasional maupun internasional.

“Sehingga antara target pengelolaan untuk mendapatkan pemasukan, peningkatan kualitas atlet hingga menjadikan olahraga diminati masyarakat, harus berjalan bersama. Karenanya kita ingin rencana besar ini, persiapannya benar-benar matang, terutama saat Pencanangan Pertama Grand Design nantinya,“ ungkap Gubsu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Sumut Mahfullah P Daulay menjelaskan, dalam rencana besar tersebut, pengelolaan kawasan pusat olahraga akan diberikan kepada Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dalam bentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Langkah itu bertujuan meningkatkan manajemen pengelolaan, baik dari sisi pemeliharaan maupun pemanfaatan fasilitas.

“Jadi dengan pengelolaan oleh BLUD nantinya, kelebihannya seperti peningkatan kualitas pelayanan, optimalisasi aset, dan bisa mengelola pendapatan secara mandiri. Termasuk mendorong adanya inovasi layanan, seperti digitalisasi dan model bisnis yang tetap berorientasi pada pelayanan publik,” ungkap Mahfullah.

Mahfullah menambahkan, pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan kawasan pusat olahraga oleh BLUD nantinya juga dapat dialokasikan untuk bantuan hibah urusan kepemudaan dan keolahragaan, seperti pembinaan atlet dan pengembangan komunitas olahraga.

Dengan demikian, pengelolaan fasilitas olahraga tidak hanya berorientasi pada penerimaan daerah, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi pengembangan olahraga dan peningkatan prestasi atlet Sumut. Untuk mewujudkan target tersebut, diperlukan kerja sama dan kolaborasi seluruh pihak terkait sehingga transformasi olahraga menjadi industri dapat berjalan secara optimal. (Asarpua)