Sidarta Pelawi Galang Pembangunan Makam Guru Patimpus Sembiring Pelawi

129
Sidarta S Pelawi MBA, Sabtu (13/04)2019) melalui siaran pers tertulis kepada wartawan di Medan. (Foto. ASARPUA.com/ist)

ASARPUA.com – Medan – Sidarta S Pelawi salah satu keturunan Guru Patimpus Sembiring Pelawi pendiri Kota Medan sudah sejak lama menggalang pembangunan makam Guru Patimpus Sang Founding Father Kuta Madan.

“Keingin dan harapan seluruh keturunan, cucu, cicit Guru Patimpus Sembiring Pelawi membuat makam Pahlawan Sejarah Kota Medan ini karena sepertinya  Guru Patimpus Sembiring Pelawi hampir dilupakan warga kota ini. Bahkan kuburannya sajapun tidak semua warga Kota Medan tahu di mana persisnya. Hal itu salah satu akibat kurangnya perhatian pemerintah terhadap pahlawan pelaku sejarah Kota Medan yang kurang diberi penghargaan sebagai Pendiri Kota Medan pada tahun 1590,” kata Sidarta S Pelawi salah satu keturunan dari Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

“Walaupun menjadi pendiri Kota Medan, tetapi kuburannya ternyata tidak berada di Kota Medan, melainkan ada di Kabupaten Deli Serdang, tepatnya di Desa Lama Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, tutur Sidarta S Pelawi MBA, Sabtu (13/04)2019) melalui siaran pers tertulis kepada wartawan di Medan.

Situasi ini menjadi perhatian serius Sidarta selaku cucu sang ‘founding father’ Kota Medan. Katanya berdasarkan hasil penelitian tim penyusun sejarah Kota Medan yang dipimpin Prof Mahadi Dkk pada tahun 1972, Medan didirikan pada tahun 1590 oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi, sehingga Pemko Medan menetapkan Hari Jadi Kota Medan 1 Juli dan untuk mengenang Pendiri Kota Medan Guru Patimpus Sembiring Pemko Medan mendirikan patung atau tugu Guru Patimpus di Jalan Guru Patimpus Kecamatan Medan Petisah jaraknya hanya dua ratusan meter dari Kantor Walikota Medan.

“Namun, anehnya Guru Patimpus Sembiring Pelawi yang lahir di Desa Ajijahe Tanah Karo pada 1540, hingga akhir hayatnya tidak memiliki tanah warisan untuk anak cucunya.” ungkap Sidarta S Pelawi seraya menambahkan bahwa tanah ukuran 2×4 meter untuk makamnya saja tidak ada, sehingga harus dimakamkan di Hamparan Perak Desa Lama asal kampung istrinya yang ke-4 terletak dekat di bekas pusat Benteng Kerajaan Aru. “Ironisnya Makam Guru Patimpus hanya berupa gundukan tanah yang kurang layak untyuk ukuran makam seorang Pendiri Kota Medan,” kata Sidarta.

Sidarta Pelawi menuturkan, Guru Patimpus Pelawi merupakan sosok lelaki atau pria perkasa yang berjiwa petualang dan pengembara untuk menjalankan misi kemanusiaan yaitu mengobati orang sakit dari satu daerah ke daerah lain mulai dari dataran tinggi Karo hingga ke Tanah Deli. Pada setiap tempat, Guru Patimpus mendirikan pemukiman yang kemudian menjadi desa sebanyak 12 desa yang kini kita kenal sebagi Urung Sepuluh Dua Kuta di Kesultanan Deli.

Menurut sejarah,  Guru Patimpus juga mendirikan Sepuluh Dua Kuta mulai dari Desa Ajijahe (Rumah Meseng), Desa Perbaji  hingga terakhir Kuta Madan yang kita kenal sekarang sebagai Kota Medan. Keteladanan Guru Patimpus yang diwariskan ke anak cucunya bukan untuk menguasai warisan tetapi merintis dan mendirikan desa untuk tempat tinggal orang banyak dengan pemerintahan sendiri. Karena saat iu belum ada pemerintahan Indonesia dan Belanda juga belum masuk.

Keteladanan ditiru anak-anaknya diantaranya anak pertama dari istri Pertama Br Sinuhaji di Ajijahe (Pelawi Ruah Tanduk) yaitu Bagelit Sembiring Pelawi  yang mendirikan Desa Sukapiring dan keturunannya menjadi Raja Urung Datuq Sukapiring. Anak dan istri kedua yang juga Br Sinuhaji di Desa Ajijahe (Pelawi Rumah Tersek) yaitu Jenda Sembiring Pelawi yang menjadi Raja di Ajijahe.

Nini br Sinuhaji pertama dari keluarga Sinuhaji Rumah Julu dan Nini Br Sinuhaji kedua dari Keluarga Sinuhaji Rumah Jahe di Ajijahe.

Istri ketiga Guru Patimpus adalah Br Bangun (Nini Ribu) di Desa Perbaji yaitu Aji Sembiring Pelawi menjadi Raja di Desa Perbaji, Anak kedua diberi nama Raja Kita Sembiring Pelawi menjadi Raja di Desa Durin Kerajaan Langkat. Istri keempat Br Tarigan putri dari Raja Pulu (Pulau) Brayan memberinya dua anak laki-laki- yang bernama Kolok (Hafiz Tua) Sembiring Pelawi dan Kocik (Hafiz Muda) Sembiring Pelawi yang kemudian menjadi raja Urung Sepuluh Dua Kuta dan Guru Patimpus mulai mengenal ajaran agama dan masuk Islam ketika menikah dengan Br Tarigan Putri Raja Pulu Brayan.

Kini Kuta Madan atau Kota Medan kini telah berkembang pesat menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia dengan 2 juta lebih penduduk dari berbagai etnis yang selalu damai dan harmonis. Namun tidak semua mengetahui asal usul berdirinya Kota Medan dan nama besar Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

“Semestinya Pemko Medan bersama Kabupaten Deli Serdang membangun makam Guru Patimpus sekaligus menjadikan Museum Sejarah Kota Medan yang dapat menjadi objek wisata sehingga warga tahu asal usul Kota Medan,’ ujar Sidarta Pelawi.

Saat ini seluruh keturunan Guru Patimpus yang tersebar diberbagai penjuru dunia bersatu dan sedang merencanakan pembangunan makam untuk Sang ‘Founding Father’ Kota Medan Guru Patimpus Sembiring Pelawi dan diharapkan Pemko Medan dan Kabupaten Deli Serdang memberi perhatiannya, demikian cucu Guru Patimpus, Sidarta S Pelawi. (as-01)