Senggolan di Paktertuak Berbuah Penganiayaan Berujung di Kantor Polisi

159
Suharja Sinuraya saat memberikan keterangan kepada wartawan sambil menunjukkan surat-surat dari pihak kepolisian. (Foto : ASARPUA.com/ Johni Sembiring)

ASARPUA.com – Tanah Karo – Kepolisian Resor Tanah Karo telah resmi menerima laporan pengaduan Ketua Karang Taruna Desa Bunuraya Baru Kecamatan Tiga Panah Karo, Suharja Sinuraya (32).

Laporan pengaduan korban penganiayaan yang diduga dilakukan oknum polisi Polres Tanah Karo tertuang dalam Laporan Polisi Nomor : LP/327/V/2019/SU/Res T Karo,tanggal 31 Mei 2019.

Kepolisian Resor Tanah Karo dalam menyikapi kasus ini sepertinya tidak mau main-main.  Apalagi dalam kasus ini menurut informasi melibatkan oknum dari Sat Sabhara Polres Tanah Karo.

Untuk menuntaskan kasusnya Polres Karo juga sudah menyampaikan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP). SP2HP tersebut bernomor : B/157/VI/2019/Reskrim tertanggal 04 Juni 2019.

Sehubungan tentang dugaan terjadinya tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 170 Jo 351 dari KUHPidana yang terjadi pada hari Jumat tanggal 31 Mei 2019 sekira pukul 02.00 di Desa Bunuraya Baru Kecamatan Tigapanah-Karo.

Juga sudah menyampaikan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan kepada Kepala Kejaksaan Negeri Kabanjahe. SPDP bernomor : B/138/VI/2019/Reskrim tertanggal 04 Juni 2019, atas nama Kepala Kepolisian Resor Tanah Karo, Kasat Reskrim selaku penyidik AKP Rasmaju Tarigan SH, Suharja Sinuraya didampingi ibu kandungnya dan Ketua Yayasan Anak Bangsa yang bergerak dalam rehabilitasi korban penyalah gunaan narkoba, Thomas Sinuhaji kepada sejumlah awak media termasuk ASARPUA.com di Kabanjahe Senen (10/06/2019) seusai memberikan keterangan di Polres Karo menyampaikan bahwa terjadinya kasus penganiayaan hanya masalah sepele.

Malam kejadian saya (korban) bersama dengan Ari Suheri (20) warga Desa Mulawari sedang minum di lapo tuak “Nini Tambak” Tiga Panah. Kemudian saya berjalan dari meja saya hendak menghampiri waiters bermaksud menanyakan namanya. Pada saat bersamaan kami saling senggolan secara tidak sengaja,” jelas Suharja.

Gak tahu kau rupanya aku polisi, sambil mengeluarkan pistol,” kata Suharja menirukan ucapan oknum tersebut.

Dikatakan Harja lagi, mendengar pernyataannya bahwa dia oknum polisi maka langsung mohon maaf. “Kalau kam memang polisi saya mohon maaflah bang,” kata Suharja mengingatkan ucapannya pada malam kejadian.

Tetapi permintaan maaf tersebut sepertinya tidak digubris terduga pelaku dan tterus saja mempermasahkan senggolan ersebut. Bahkan menantang saya duel satu lawan satu diluar lapo tuak,” beber Sinuraya menirukan situasi pada malam kejadian.

Untuk menghindari kejadian semakin menjadi-jadi korban bersama rekannya tambah Harja lagi,dia bersama dengan temannya langsung beranjak dari lapo tuak pulang ke rumah.

Sampai depan rumah tiba-tiba saya dipepet dua mobil. Satu mobil avanza satu lagi mobil patroli double kabin. Sejurus kemudian dua orang oknum yang turun dari mobil dabel kabin dengan berpakaian polisi langsung memukuli saya dan mengatakan saya sekarang harus dibawa ke Polres Karo, dan harus tes urin,” beber Sinuraya menceritakan kronologis kejadian malam itu.

Diakui korban (Suharja) malam dini hari itu dia bukannya dibawa ke Mapolres Karo tetapi ke lapangan Samura Kabanjahe.

Di lapangan Samura diakuinya dia tidak hanya dipukuli oknum yang berseragam polisi tetapi juga dipukuli oleh lima orang berpakaian sipil.

Ibu kandung korban K Br Perangin-angin memohon kiranya kasus pengamiayaan terhadap anaknya dibuat menjadi terang benderang.

“Saya mohon dengan sangat persoalan anak saya ini diusut sampai tuntas,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Yayasan Anak Bsngsa,Thomas Sinuhaji yang mengaku bahwa Suharja Sinuraya adalah merupakan kadernya mengaku sangat menyesalkan kejadian. “Saya mau dilakukan tes urin terhadap Sinuraya. Tetapi  oknum yang diduga melakukan penganiayaan juga dilakukan tes urin,”singkat Sinuhaji.(as-joh)