Oleh: Deddi Gunawan Hutajulu
Tiga setengah jam perjalanan dari Pematangsiantar ke Tarutung, Roy Purba tidak sedang mencari tahu apakah dirinya sakit.
Lelaki 40 tahun itu datang ke Kabupaten Tapanuli Utara pada Desember 2025 untuk merayakan Natal Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI).
Jaraknya sekitar 155 kilometer. Ia menempuhnya dengan angkutan umum.
Pagi itu, halaman parkir gereja dipenuhi banyak warga. Dalam rangkaian bakti sosial Natal GAMKI, masyarakat mendapat layanan cek kesehatan dan pengobatan gratis yang digelar bersama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara.
Roy sebenarnya tidak berniat ikut.
Ia merasa sehat.
Sesekali lehernya memang terasa tegang. Tetapi ia menganggapnya keluhan biasa.
Sampai ia tahu pemeriksaan itu gratis.
“Karena gratisnya, makanya aku mau,” katanya.
Ia ikut mengantre.
Pagi berjalan seperti biasa.
Sampai seorang petugas menyampaikan hasil pemeriksaannya.
“Pak, Bapak mengalami hipertensi dan kolesterol tinggi. Ini jangan dianggap sepele ya, Pak.”
Roy terdiam.
Di lembar hasil pemeriksaan tercatat tekanan darah 141/95 mmHg dan kolesterol total 250 mg/dL.
Ia tidak menyangka.
Selama ini ia merasa baik-baik saja.
Dokter kemudian mengingatkan soal makanan.
“Bapak suka makan daging ya? Dijaga kesehatan. Makanan bersantan juga dikurangi.”
Roy teringat pada pola makannya.
Daging. Santan. Makanan yang selama ini ia santap mengikuti selera.
Di Pematangsiantar, daging tubis arsik bisa hadir di meja makannya tiga kali dalam sepekan. Jika diajak kawan, rumah makan khas Batak bahkan bisa menjadi tujuan hampir setiap hari.
“Memang benar-benar nggak bisa kutolak,” katanya.
Nasihat soal makanan sebenarnya bukan pertama kali ia dengar.
Istrinya sudah sering mengingatkan.
Roy mengaku:
“Uda sering diingatkan, tapi membandel.”
Kali ini, nasihat itu datang bersama dua angka.

Malam harinya, Roy tiba kembali di Pematangsiantar.
Di rumah ada istri dan dua anaknya.
Hasil pemeriksaan yang diterimanya pagi tadi difoto. Ia mengirimkannya kepada istrinya melalui WhatsApp.
Balasannya singkat.
“Papa jaga kesehatanlah.”
Kali ini Roy mulai menjalankannya.
Daging dikurangi. Makanan bersantan semakin jarang.
Nasi putih dibatasi. Sesekali ia menggantinya dengan ubi rebus, atau cukup makan ikan dan sayur.
Gula juga dikurangi. Teh manis ditinggalkan.
Kopi tetap diminum, tetapi tanpa gula.
Perubahan itu bahkan sampai mengubah seleranya.
“Kalau kopi pakai gula rasanya aneh. Nggak mau lagi kuminum,” katanya.
Tetapi hasil pemeriksaan tidak serta-merta membuat Roy berhenti menyukai makanan yang selama ini digemarinya.
Ketika daging tersaji di depannya, ia masih ingat hasil pemeriksaan.
Kadang tetap dimakan.
Hanya porsinya dibatasi.
“Memang benar-benar nggak bisa kutolak. Tapi dibatasilah.”
Perubahan, rupanya, tidak selalu berarti berhenti.
Kadang cukup dengan mengurangi.

Sekitar pukul empat sore, Roy mulai berjalan.
Ia berjalan di trek kawasan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar bersama dua atau tiga kawan.
Satu jam.
Itu targetnya sekarang.
Pada awalnya, 20 menit saja sudah membuatnya lelah. Ia berhenti, beristirahat, lalu melanjutkan.
Tetapi Roy konsisten.
Sampai akhirnya satu jam berjalan tidak lagi terasa berat.
Ia pernah malas.
Namun ada sesuatu yang membuatnya kembali melangkah.
“Program ini sudah kumulai, sayang sekali kalau kuhentikan.”
Ada ketakutan lain yang ikut tumbuh setelah pemeriksaan itu.
Roy pernah melihat orang terkena stroke.
Ia tidak ingin mengalami hal yang sama.
“Sewaktu-waktu aku kena stroke karena makan daging terus. Aku takutlah,” katanya.
Ketakutan itu tidak membuatnya berhenti makan daging sama sekali.
Ia hanya mulai membatasi.
Dan terus berjalan.

Tubuh yang Belum Berbicara
Apa yang dialami Roy bukan sesuatu yang aneh.
Menurut dr. Rachmad Suwelen, hipertensi dan kolesterol tinggi dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Tubuh memiliki kemampuan kompensasi yang besar sehingga seseorang masih dapat merasa sehat meski gangguan kesehatan mulai terjadi.
“Umumnya gejala belum nampak karena tubuh mempunyai kemampuan kompensasi mempertahankan fungsinya sangat besar,” ujar Suwelen.
Karena itu, pemeriksaan berkala tetap diperlukan meski seseorang merasa sehat. Suwelen menyebut pemeriksaan bagi orang tanpa gejala dapat dilakukan sekitar enam bulan hingga satu tahun sekali, sedangkan mereka yang memiliki faktor risiko dapat diperiksa lebih sering.
Menurut Suwelen, pemeriksaan kesehatan pun tidak harus menunggu usia tua. Remaja, bahkan anak-anak dengan kondisi tertentu, dapat membutuhkan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi tubuh lebih dini.
Sebab, kerusakan bisa saja mulai terjadi ketika gejalanya belum tampak.
Tubuh belum berbicara. Angka pemeriksaan kadang lebih dulu bicara.

Menunggu Sampai Tubuh Berbicara
Tidak semua orang mau mencari tahu sebelum tubuh memberi peringatan.
Lasma Ritonga, seorang bidan, melihat hal itu dalam kesehariannya.
“Kalau nggak ada gejala, tidak mau mereka periksa,” katanya.
Sebagian warga, menurut Lasma, baru datang berobat ketika kondisi sudah berat.
Ia teringat seorang warga yang biasa dipanggil Marta.
Perempuan itu sebelumnya sering mengeluhkan sakit kaki dan pinggang. Suatu ketika kondisinya memburuk. Ia tidak buang air besar selama sekitar seminggu dan juga tidak mau makan.
Lasma menyarankan pemeriksaan darah untuk mengetahui kondisi lebih lanjut. Namun Marta tidak bersedia.
Malam harinya, Marta dilarikan ke rumah sakit. Pemeriksaan menunjukkan kadar kreatinin yang tinggi. Perawatannya berlanjut hingga ia menjalani cuci darah.
“Kalau bidan, hanya pertolongan pertama saja. Kalau sudah berat harus ke RS,” ujar Lasma.
Roy datang lebih awal.
Bukan karena ia merasa perlu.
Karena pemeriksaannya gratis.

Dari Deteksi hingga Pengobatan
Pengalaman Roy menjadi bagian kecil dari persoalan yang jauh lebih besar.
Dalam evaluasi CKG 2026, Kementerian Kesehatan melaporkan pemeriksaan ulang terhadap 9,2 juta peserta yang pada tahun sebelumnya tidak terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi. Sekitar 1 juta orang kemudian terdeteksi hipertensi.
Temuan itu memperlihatkan mengapa pemeriksaan ketika seseorang masih merasa sehat menjadi penting.
Namun CKG kini tidak berhenti pada deteksi.
Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin menegaskan:
“Yang paling penting sekarang, cek kesehatan gratis itu bukan hanya dicek, tapi juga diobati.”
Pesan tersebut sejalan dengan tema CKG 2026: “Cegah Dini, Tuntas Obati.”

Ketika ditanya apa yang ia pikirkan jika bisa kembali ke pagi sebelum pemeriksaan di Tarutung, Roy menjawab:
“Hidup sehat. Makan enak. Tapi kan makan enak belum tentu sehat.”












