Kisah Dimaz dan Sekolah yang Membuatnya Kembali Percaya Bahwa Ia Berharga
Oleh: Dedy Hutajulu
Di belakang gedung sekolah dasar, di sudut sepi yang tak pernah diperhatikan siapa pun, seorang anak laki-laki duduk memeluk lututnya. Bahunya bergetar. Air mata mengalir, tanpa suara. Sesekali ia mengelap wajahnya dengan lengan baju seragam. Tidak ada guru yang mencarinya. Tidak ada teman yang bertanya ke mana ia pergi. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa pada usia yang bahkan belum genap remaja, ia sedang berjuang sendirian melawan perasaan bahwa dirinya tidak berharga.
Beberapa menit sebelumnya, pada mata pelajaran bahasa Indonesia, seorang teman sekelas kembali melontarkan kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar.
“Kamu nggak bisa apa-apa.”
“Kamu cuma jadi beban keluarga.”
Kalimat ejekan itu menempel di kepalanya jauh lebih lama daripada suara yang melontarkannya. Meski kata-kata itu telah lama berlalu, bekasnya tetap tinggal. Kata-kata itu terus berputar, menggerus keyakinannya sedikit demi sedikit, sampai ia mulai mempercayainya.
Anak itu adalah Muhammad Dimaz. Usianya baru 13 tahun. Ia tumbuh dalam keluarga pas-pasan di Desa Sampecita, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Anak kedua dari tiga bersaudara, buah hati pasangan Samsul Akmal (43) dan Sri Wahyuni (40).

Kehidupan keluarga Dimaz jauh dari kata berkecukupan. Sang ayah bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Dengan penghasilan yang tidak menentu, keluarga ini harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anak mereka.
Hidup Dalam Luka Batin
Bertahun-tahun sebelum mengenal harapan, ia lebih dulu mengenal luka. Sejak duduk di bangku kelas satu sekolah dasar, ia hidup dalam lingkaran perundungan yang nyaris tak pernah putus. Ia diejek, dipukul, ditendang, disikut, disleding, bahkan pernah dikeroyok oleh lima hingga enam anak sekaligus. Namun luka yang paling dalam bukanlah rasa sakit di tubuhnya. Luka itu tumbuh diam-diam di dalam pikirannya, membuat seorang anak kecil percaya bahwa dirinya memang tidak berarti.
Dan ketika seorang anak mulai mempercayai bahwa dirinya tidak berarti, saat itulah masa depannya perlahan ikut runtuh. “Saya merasa memang tidak bisa apa-apa. Saya merasa bukan siapa-siapa lagi,” kenangnya.
Perasaan itu membuat semangat belajarnya perlahan menghilang. Ia merasa tertinggal dalam pelajaran dan tidak akan mampu mengejar teman-temannya. Ketika anak-anak lain mulai berbicara tentang cita-cita, Dimaz justru tidak mampu membayangkan masa depannya sendiri. Baginya, sekolah tidak lagi menjadi tempat untuk bermimpi, melainkan tempat yang membuatnya merasa semakin kecil setiap hari.
Ada anak-anak yang hadir setiap hari di sekolah, tetapi sesungguhnya merasa tidak pernah benar-benar dilihat. Mereka duduk di ruang kelas yang sama, mendengar pelajaran yang sama, namun tidak pernah merasa menjadi bagian dari tempat itu. Dimaz adalah salah satunya. Ia datang ke sekolah hanya karena harus datang, bukan karena masih memiliki harapan.

Saat duduk di kelas lima, ia mulai sering bolos. Bukan karena malas belajar, melainkan karena sudah terlalu lelah menghadapi semuanya. Ketika rasa sesak datang, ia pergi ke belakang sekolah dan duduk sendirian. Di tempat itulah ia sering menangis sampai perasaannya sedikit tenang, sebelum pulang ke rumah, seperti tidak terjadi apa-apa.
Di rumah, Dimaz juga memilih diam. Ia jarang bercerita kepada siapa pun, termasuk kepada orang tuanya. Pada saat yang sama, keluarganya sedang menghadapi persoalan berat karena kedua orang tuanya berpisah. Ibunya pindah ke Berastagi menjadi petani di ladang-ladang warga di sana. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Dimaz merasa kehilangan tempat bersandar ketika orangtuanya bercerai.
Perundungan, kegagalan di sekolah, dan retaknya keluarga bertumpuk menjadi satu beban yang terlalu berat untuk dipikul anak seusianya. Ia mulai berpikir untuk berhenti sekolah selamanya. Ketika teman-temannya bersiap melanjutkan pendidikan ke SMP, Dimaz justru merasa masa depannya telah berakhir sebelum benar-benar dimulai. Ia tidak lagi memiliki cita-cita ataupun tujuan hidup yang ingin dikejar.
Perubahan itu disadari oleh ayahnya. Sebagai pekerja serabutan yang sehari-hari memperbaiki listrik, kuli bangunan, montir, atau memanen kelapa, sang ayah melihat anak laki-laki satu-satunya perlahan kehilangan arah.
Suatu malam, setelah pulang bekerja, ia mengajak Dimaz berbicara dari hati ke hati. Percakapan sederhana itu kemudian menjadi salah satu momen yang tidak pernah dilupakan Dimaz. “Kalau nanti ayah tidak ada, bagaimana kamu?” tanya sang ayah.

Malam itu, untuk pertama kalinya Dimaz melihat ayahnya menangis. Bukan karena marah, melainkan karena takut, bila anak laki-laki satu-satunya menyerah pada masa depan. Dimaz tidak banyak menjawab. Namun pemandangan itu membekas kuat dalam ingatannya dan menjadi salah satu alasan yang membuatnya kembali mempertimbangkan untuk sekolah.
Suatu pagi, sebelum berangkat ke kilang penggilingan padi, ayahnya menyempatkan diri ngopi di warung, tak jauh dari rumah. Seorang petugas Program Keluarga Harapan, datang menawarkan Sekolah Rakyat. Ayahnya senang sekali. Ini menjadi peluang bagus untuk mengembalikan sang anak ke sekolah.
Namun, rasa senang itu hanya bertahan sebentar. Sesampainya di rumah, ketika ayahnya menceritakan soal Sekolah Rakyat, Dimaz langsung menolak. Ia sudah kehilangan kepercayaan terhadap sekolah. Dalam benaknya, sekolah hanya tempat untuk kembali menerima ejekan dan perlakuan buruk yang sama seperti sebelumnya. Ia yakin tidak akan menemukan sesuatu yang berbeda.
Kembali Bersekolah
Namun sang ayah terus membujuknya untuk mencoba. Dengan setengah hati, Dimaz akhirnya bersedia masuk Sekolah Rakyat. Ia datang bukan membawa mimpi atau semangat baru. Ia datang membawa ketakutan, keraguan, dan luka yang belum sembuh.
Hari pertama di Sekolah Rakyat menjadi pengalaman yang sangat asing baginya. Ia tidak mengenal siapa pun. Ia bingung harus berbicara dengan siapa dan merasa tidak memiliki teman. Ketika malam tiba dan suasana asrama mulai tenang, perasaan itu justru semakin kuat.

Di malam pertama itulah Dimaz menangis. Ia ingin pulang. Ia merasa tidak akan betah tinggal jauh dari rumah bersama orang-orang yang sama sekali belum dikenalnya. Ketakutan bahwa ia akan kembali dijauhi dan dirundung muncul lagi di kepalanya. Namun guru dan wali asuh tidak menertawakan kegelisahannya. Mereka mendengarkan dan memberi kesempatan kepadanya untuk mencoba bertahan sedikit lebih lama.
Seminggu berlalu. Kemudian sebulan, dua bulan, tiba-tiba sudah akhir semester. Perlahan, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan mulai terjadi. Tidak ada yang mengejeknya. Tidak ada yang merendahkannya. Teman-teman justru mendekat dan mengajaknya berbicara.
Di antara mereka, ada Andika Rafael. Dari hal-hal sederhana seperti meminjamkan sabun hingga berbagi cerita di asrama, persahabatan mereka tumbuh. Bagi Dimaz, pengalaman itu terasa sangat berbeda dengan masa sekolahnya dahulu. Untuk pertama kalinya, ia merasa diterima tanpa harus menjadi orang lain.
Perasaan diterima itu perlahan mengubah cara Dimaz memandang dirinya sendiri. Jika dulu ia selalu merasa tidak mampu, kini ia mulai berani mencoba hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Perubahan itu tidak datang melalui pidato motivasi yang panjang atau nasihat yang menggurui. Ia tumbuh dari keseharian yang sederhana: teman yang mau mendengarkan, guru yang mau membimbing, wali asuh yang peduli, dan lingkungan yang tidak menghakimi masa lalunya.
Suatu hari, Dimaz membuat sebuah catatan sederhana. Ia melihat beberapa teman belum disiplin mengikuti salat berjamaah. Dengan buku tulis yang dimilikinya, ia mulai mencatat siapa yang hadir dan siapa yang tidak. Tidak ada yang menyuruhnya melakukan itu. Semuanya murni inisiatif pribadi.

Tindakan kecil itu ternyata menarik perhatian guru dan wali asrama. Mereka melihat sesuatu yang selama ini jarang dilihat orang lain dalam diri Dimaz: rasa tanggung jawab. Dari sana, kepercayaan mulai diberikan sedikit demi sedikit. Ia diminta membantu mengatur kegiatan asrama dan ikut mengawasi kedisiplinan teman-temannya.
Bagi sebagian orang, tugas itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi Dimaz, kepercayaan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar. Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan keyakinan bahwa dirinya tidak berguna. Kini, ada orang yang mempercayainya untuk mengemban tanggung jawab. Kepercayaan itu menjadi titik balik.
Titik Balik Kehidupan Dimaz
Dari pengurus sederhana, Dimaz kemudian dipercaya menjadi wakil ketua asrama. Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi ketua asrama. Ia membantu membangunkan teman-temannya setiap pagi, mengingatkan mereka untuk beribadah, mengawasi kebersihan, dan menjadi penghubung antara siswa dengan wali asrama ketika muncul persoalan.
Tugas-tugas itu justru membuatnya menemukan kemampuan yang selama ini tersembunyi. Ia mulai belajar berbicara dengan orang lain. Ia belajar mengambil keputusan. Ia belajar bahwa menjadi pemimpin bukan berarti menjadi orang yang paling kuat, melainkan orang yang mau bertanggung jawab.
“Awalnya, ada beberapa teman marah saat saya tegur karena tidak salat. Tapi kemudian, seiring waktu, mereka malah paling rajin sekarang untuk mengajak ibadah,” tutur Dimaz.

Kepala Sekokah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 1 Deli Serdang, Reni Lasmaria, melihat perubahan itu berlangsung secara bertahap. Menurutnya, Dimaz pada awalnya merupakan anak yang sangat tertutup dan cenderung menghindari perhatian. Ia tidak percaya diri untuk berbicara di depan orang lain dan lebih sering menjadi pengikut pasif dalam berbagai kegiatan.
SR Ciptakan Ruang Aman
Namun guru-guru di Sekolah Rakyat tidak memaksanya berubah secara instan. Mereka memberi tantangan sedikit demi sedikit sesuai kemampuannya. Ketika Dimaz melakukan kesalahan, yang dihargai bukan hanya hasilnya, melainkan keberaniannya untuk mencoba. “Kami menciptakan ruang aman agar anak-anak berani berkembang tanpa takut dihakimi,” kata Reni.
Menurutnya, banyak anak yang datang ke Sekolah Rakyat sebenarnya memiliki potensi besar. Mereka bukan anak-anak yang tidak mampu. Mereka hanya terlalu lama hidup dalam lingkungan yang membuat mereka meragukan dirinya sendiri. “Kebutuhan terbesar mereka adalah diakui keberadaannya dan diberi kesempatan,” ujarnya.
Apa yang dikatakan Reni seolah menjelaskan perjalanan Dimaz. Potensi kepemimpinan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Hanya saja tidak pernah ada yang melihatnya. Tidak pernah ada yang memberinya ruang untuk tumbuh.
Melalui berbagai kegiatan sekolah dan asrama, Dimaz mulai menunjukkan kemampuannya. Ia aktif dalam kegiatan siswa, terlibat dalam berbagai program sekolah, dan semakin sering dipercaya memimpin kelompok-kelompok kecil. Kepercayaan demi kepercayaan itu menjadi pupuk yang menyuburkan rasa percaya dirinya.
Puncaknya terjadi ketika namanya diusulkan menjadi pengurus OSIS. Awalnya Dimaz menolak. Ia takut gagal. Ia takut mempermalukan dirinya sendiri. Ia takut kembali dianggap tidak mampu. Ketakutan itu muncul karena luka lama yang belum sepenuhnya hilang. Dalam benaknya masih tersimpan sosok Dimaz kecil yang pernah menangis di belakang sekolah setelah mendengar dirinya disebut beban keluarga.
Namun guru-guru tidak menyerah. Mereka terus meyakinkannya bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba. Nasihat itu perlahan membuat Dimaz memberanikan diri menerima tantangan tersebut. Keputusan itu mengubah hidupnya.
Dalam proses pemilihan OSIS, ia belajar menyampaikan gagasan, berdiskusi dengan teman-temannya, dan memimpin berbagai kegiatan. Hingga akhirnya ia dipercaya menjadi Ketua OSIS SRMP 1 Deli Serdang.
Anak yang dulu takut berbicara kini berdiri di depan banyak orang. Anak yang dulu selalu merasa kecil kini dipercaya memimpin. Anak yang dulu bersembunyi kini menjadi sosok yang dicari ketika teman-temannya membutuhkan bantuan.
Perubahan itu juga dirasakan oleh orang-orang terdekatnya. Andika Rafael, sahabatnya di Sekolah Rakyat, melihat bagaimana Dimaz berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih disiplin dan bertanggung jawab. Menurutnya, Dimaz sekarang selalu berusaha hadir ketika dibutuhkan dan tidak lagi menghindari tanggung jawab seperti yang sering ia ceritakan tentang masa lalunya.
“Dia sekarang rajin, disiplin, dan berani. Dulu dia cerita sering cabut sekolah. Sekarang dia justru jadi contoh bagi teman-temannya,” kata Andika.
Pandangan serupa disampaikan Budi Purnomo Siahaan, wali asuh yang mendampingi Dimaz selama berada di Sekolah Rakyat. Menurut Budi, perubahan paling mencolok terlihat pada keberanian Dimaz untuk tampil di depan umum. Jika dahulu ia sangat pemalu dan tidak banyak bicara, kini ia mampu berbicara di depan guru maupun teman-temannya dengan penuh keyakinan.
“Kalau diberi tugas, dia melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Dia rajin, disiplin, dan bisa dipercaya,” jelas Budi.
Bagi Dimaz, perubahan terbesar bukanlah jabatan yang kini ia pegang. Bukan pula berbagai tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Perubahan terbesar adalah kembalinya harapan yang sempat hilang.
Dulu ia tidak memiliki cita-cita. Ketika ditanya ingin menjadi apa, ia tidak tahu harus menjawab apa. Masa depan terasa gelap. Namun kini jawabannya selalu sama. “Aku ingin menjadi tentara,” jawabnya mantap.
Keinginan itu muncul setelah ia melihat langsung sosok-sosok TNI yang menurutnya gagah dan berdedikasi menjaga negara. Baginya, menjadi tentara bukan hanya tentang seragam atau pangkat. Ia ingin menjadi seseorang yang berguna bagi banyak orang. “Saya ingin menjaga negara supaya aman dan mengabdi kepada Indonesia,” katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi seorang anak yang pernah kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri, memiliki cita-cita adalah sebuah kemenangan besar. Sebab cita-cita hanya dimiliki oleh mereka yang masih percaya bahwa masa depan layak diperjuangkan.
Kisah hidup Dimaz sesungguhnya bukan semata soal seorang bocah yang berhasil bangkit dari perundungan. Kisah ini juga tentang bagaimana satu lingkungan mampu mengubah cara seorang anak memandang dirinya sendiri.

Sekolah Adalah Rumah dan Rumah Adalah Sekolah
Menurut Reni Lasmaria, banyak siswa yang datang ke Sekolah Rakyat membawa luka yang tidak selalu terlihat. Ada yang tumbuh dalam kemiskinan, mengalami konflik keluarga, kehilangan kepercayaan diri, atau merasa tidak pernah dihargai. Karena itu, sekolah berusaha membangun lingkungan yang membuat anak-anak merasa diterima dan dicintai. “Prinsip kami sederhana. Sekolah adalah rumah dan rumah adalah sekolah,” katanya.
Di SRMP 1 Deli Serdang, guru, wali asuh, wali asrama, penjaga keamanan, hingga petugas kebersihan diperlakukan sebagai keluarga. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi juga mendengar, membimbing, menguatkan, dan menemani anak-anak menemukan kembali kepercayaan dirinya. Barangkali itulah yang terjadi pada Dimaz.
Sekolah Rakyat tidak memberinya kemampuan baru. Kemampuan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Yang berubah adalah ada orang-orang yang bersedia melihatnya, mempercayainya, dan memberinya kesempatan.
Bertahun-tahun lalu, Dimaz duduk sendirian di belakang sekolah sambil menangis karena percaya pada satu kalimat yang terus menghantuinya: “Kamu tidak bisa apa-apa.”
Hari ini, kalimat itu tidak lagi tinggal di kepalanya. Yang tinggal adalah kepercayaan dari guru-gurunya. Teman-teman yang memanggilnya ketua. Tanggung jawab yang ia jalankan setiap hari. Dan sebuah mimpi untuk suatu hari berdiri sebagai prajurit yang menjaga Indonesia.
Mungkin Sekolah Rakyat tidak mengubah siapa Dimaz. Sekolah Rakyat hanya melakukan sesuatu yang selama ini jarang Dimaz dapatkan: melihatnya, mengakuinya, dan mempercayainya.
Dan bagi anak-anak yang selama ini hidup sebagai the invisible people, terkadang satu hal itulah yang menjadi awal dari seluruh perubahan. (Asarpua)
Penulis; Dedy Hutajulu















