asarpua.com

Humas Polres Simalungun Himbau Hentikan Perang Sarung

Humas Polres Simalungun mengeluarkan himbauan tegas: hentikan tradisi "perang sarung" yang sering berujung perkelahian, cedera, bahkan gangguan keamanan. (Foto. Asarpua.com/ humas)

ASARPUA.com – Simalungun – Jelang Ramadan 1447 H, Humas Polres Simalungun mengeluarkan himbauan tegas: hentikan tradisi “perang sarung” yang sering berujung perkelahian, cedera, bahkan gangguan keamanan. “Ramadan bukan tentang siapa yang paling berani, tetapi tentang siapa yang mampu menjaga diri,” tegas Kasi Humas Polres Simalungun ingatkan masyarakat untuk mengisi Ramadan dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Kepala Seksi Humas Polres Simalungun, AKP Verry Purba, saat dikonfirmasi Selasa, (03/03/2026),  menjelaskan bahaya perang sarung jelang Ramadan. “Perang sarung yang awalnya dianggap permainan, sering kali berujung pada perkelahian, cedera, hingga mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat. Kami mengimbau masyarakat untuk menghentikan tradisi ini dan menggantinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat,” ujar Kasi Humas dengan serius.

Perang sarung adalah tradisi yang biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat, khususnya anak muda, menjelang atau selama Ramadan. “Perang sarung biasanya dilakukan dengan cara memukul-mukulkan sarung yang sudah digulung atau dibentuk seperti cambuk. Yang dipukul biasanya bagian tubuh seperti kaki, tangan, atau punggung. Ini dianggap sebagai permainan atau tradisi turun-temurun,” ungkap AKP Verry menjelaskan praktik.

Namun, apa yang dimulai sebagai permainan sering berakhir dengan cedera serius. “Yang awalnya main-main, sering kali jadi serius. Ada yang terpukul terlalu keras sampai luka, ada yang tersinggung dan membalas dengan lebih keras, akhirnya jadi perkelahian massal. Sudah banyak kasus perang sarung yang berujung pada penganiayaan bahkan tawuran,” kata Kasi Humas menjelaskan eskalasi.

“Cedera yang ditimbulkan dari perang sarung bisa sangat serius: memar, luka robek, patah tulang, bahkan ada yang sampai masuk rumah sakit. Ini bukan lagi permainan, ini sudah jadi tindak kekerasan yang membahayakan,” tambah AKP Verry menekankan bahaya.

Selain cedera fisik, perang sarung juga mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat. “Perang sarung biasanya dilakukan di jalan-jalan, di kampung-kampung, bahkan di depan rumah warga. Suara teriakan, kegaduhan, dan perkelahian sangat mengganggu ketenangan warga. Apalagi kalau dilakukan malam hari saat orang sedang istirahat atau beribadah,” ungkap Kasi Humas.

“Ada juga kasus dimana perang sarung melibatkan orang-orang yang tidak terlibat. Misalnya ada warga yang lewat tiba-tiba kena pukulan sarung, atau ada anak kecil yang ikut-ikutan dan terluka. Ini sangat tidak bertanggung jawab,” tambah AKP Verry memberikan contoh.

Yang paling ironis, perang sarung sering dilakukan justru saat Ramadan. “Ramadan adalah bulan suci untuk beribadah, memperbaiki diri, dan meningkatkan ketakwaan. Tapi ironisnya, ada yang malah isi Ramadan dengan perang sarung yang penuh kekerasan. Ini sangat bertentangan dengan semangat Ramadan,” kata Kasi Humas dengan prihatin.

“Ramadan mengajarkan kita untuk menahan diri, mengendalikan emosi, dan menjaga perilaku. Tapi perang sarung justru memicu kekerasan, emosi, dan perkelahian. Ini adalah kontradiksi yang sangat tidak pada tempatnya,” ungkap AKP Verry.

Humas Polres Simalungun mengajak masyarakat untuk mengisi Ramadan dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. “Yuk, kita isi Ramadan kali ini dengan kegiatan yang lebih bermanfaat: tadarus Al-Quran, shalat tarawih, kajian agama, santunan anak yatim, buka puasa bersama, dan kegiatan sosial lainnya. Ini jauh lebih bermakna daripada perang sarung,” kata Kasi Humas mengajak.

“Untuk anak muda yang biasanya ikut perang sarung, coba alihkan energi kalian ke kegiatan positif: olahraga yang sehat, kompetisi hafalan Quran, lomba adzan, bakti sosial, atau kegiatan pemuda masjid. Ini jauh lebih bermanfaat dan lebih dihargai,” tambah AKP Verry memberikan alternatif.

Kasi Humas juga menyampaikan pesan filosofis tentang Ramadan. “Ramadan bukan tentang siapa yang paling berani, tetapi tentang siapa yang mampu menjaga diri. Berani yang sebenarnya adalah berani menahan nafsu, berani mengendalikan emosi, berani menjauhi hal-hal buruk. Bukan berani pukul-pukulan dengan sarung,” ungkap AKP Verry dengan bijak.

“Orang yang benar-benar kuat adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya, bukan orang yang bisa memukul orang lain. Ini yang harus dipahami oleh anak-anak muda kita,” tambah Kasi Humas.

Polres Simalungun juga memberikan peringatan hukum. “Perang sarung yang mengakibatkan cedera atau perkelahian bisa diproses secara hukum sebagai penganiayaan atau kekerasan. Pelaku bisa dijerat dengan KUHP dan diproses pidana. Jadi ini bukan main-main, ini ada konsekuensi hukumnya,” kata AKP Verry memberikan peringatan.

“Kami akan melakukan patroli intensif selama Ramadan untuk mengantisipasi perang sarung atau gangguan kamtibmas lainnya. Kalau kami temukan kelompok yang melakukan perang sarung dan mengganggu ketertiban, kami akan tindak tegas,” tambah Kasi Humas menegaskan.

Humas juga mengajak orang tua untuk berperan aktif. “Kepada para orang tua: tolong awasi anak-anak kalian. Jangan biarkan mereka ikut perang sarung. Arahkan mereka untuk ikut kegiatan positif di masjid atau di rumah. Orang tua punya tanggung jawab besar dalam mendidik anak,” ungkap AKP Verry.

“Kalau anak kalian terluka atau ditangkap polisi karena perang sarung, yang rugi adalah kalian sendiri sebagai orang tua. Lebih baik cegah dari awal daripada menyesal di kemudian hari,” tambah Kasi Humas mengingatkan.

Tokoh agama juga diminta untuk memberikan pencerahan. “Kami juga mengajak para tokoh agama, ustadz, dan kyai untuk memberikan ceramah dan pencerahan kepada anak-anak muda tentang bahaya perang sarung dan pentingnya mengisi Ramadan dengan kegiatan bermanfaat,” kata AKP Verry.

“Mari kita sambut Ramadan 1447 H dengan penuh kekhusyukan dan kebaikan. Tinggalkan perang sarung dan tradisi-tradisi yang tidak bermanfaat. Isi Ramadan dengan ibadah, ilmu, dan amal saleh. Jadikan Ramadan ini lebih bermakna dan membawa berkah. Polres Simalungun siap mengawal Ramadan yang damai dan penuh berkah!” pungkas AKP Verry Purba menutup himbauannya dengan harapan Ramadan 1447 H di Simalungun berjalan dengan damai, khusyuk, dan jauh dari gangguan seperti perang sarung yang tidak bermanfaat. (Asarpua/ rel)

Related News

RSGM USU Diharapkan Jadi RS Rujukan Penyakit Gigi di Sumut

Redaksi

Ada 135 Desa di Nisel Ajukan Pencairan Dana Desa Tahap I

Redaksi

Dilantik Jadi Anggota DPD RI, Badikenita Putri Sitepu Gelar Syukuran

Redaksi