Penyaluran Kredit Perbankan Terkonsentrasi di Medan

86
Wiwiek Sisto Widayat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera member keterangan kepada wartawan. (Foto. ASARPUA.com/sembiring)

ASARPUA.com – Medan – Secara spasial, penyaluran kredit perbankan masih terkonsentrasi di Kota Medan yaitu sebesar Rp121,38 triliun atau 55 persen dari total kredit perbankan Sumut sebesar Rp216,581 triliun posisi Agustus 2019.

“Hal tersebut sebanding dengan size perekonomian spasial Sumut yang juga terpusat di Kota Medan,” kata Wiwiek Sisto Widayat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Utara di kantornya Selasa (08/10/2019).

Wiwiek menyebut dari sisi penggunaan, dapat terlihat bahwa daerah dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tinggi seperti Wilayah Pantai Timur memiliki porsi penyaluran kredit investasi dan modal kerja yang jauh lebih besar dibandingkan porsi penyaluran kredit konsumsi.

Penyaluran kedit pada Agustus 2019 sebesar Rp216,581 triliun itu, naik 3,3 persen dibanding posisi sama tahun 2018 sebesar Rp209,183 triliun. Beberapa sektor mengalami kenaikan seperti industri pengolahan Rp42,683 triliun, secara yoy naik 16,1 persen dari posisi sama Agustus 2018 sebesar Rp36,761 triliun. Sektor transportasi juga mengalami kenaikan 35,8 persen (yoy) dari Rp5,347 triliun Agustus 2018 menjadi Rp7,262 triliun Agustus 2019.

Namun beberapa sektor mengalami penurunan seperti penyaluran kredit ke sektor pengadaan listrik dan gas Rp132 miliar, turun dari Agustus 2018 sebesar Rp272 miliar dan sektor jasa perusahaan turun 7,5 persen dari Rp1,879 triliun pada Agustus 2018 menjadi Rp1,738 triliun pada Agustus 2019.

Wiwiek menambahkan selain penyaluran kredit, ternyata dana pihak ketiga (DPK) juga terkonsentrasi di Kota Medan yaitu Rp154,80 triliun atau 67 persen dari total DPK perbankan Sumut Agustus 2019 sebesar Rp232,250 triliun. DPK itu terdiri dari giro Rp33,503 triliun, tabungan Rp93,271 triliun dan deposito Rp105,476 triliun.

DPK pada Agustus 2019 tumbuh 2,9 persen (yoy) sedikit meningkat dibandingkan triwulan II, namun lebih rendah dibandingkan rerata pertumbuhan DPK periode yang sama 3 tahun terakhir sebesar 6,6 persen (yoy).

“Terbatasnya pertumbuhan DPK dipengaruhi oleh kontraksi giro yang semakin dalam,” ungkap Wiwiek.

Dilihat dari golongan nasabah, pertumbuhan DPK swasta masih terlihat terkontraksi namun tidak sedalam periode sebelumnya, sementara pertumbuhan DPK perseorangan menunjukkan perbaikan, tumbuh 6,8 persen (yoy) dari sebelumnya 6,5 persen (yoy). (as-14)